Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Selingkuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Selingkuh. Tampilkan semua postingan

Cerita Dewasa Belanja Cari Istri

Cerita Dewasa Belanja Cari Istri

Cerita Dewasa Belanja Cari Istri

Cerita Dewasa kali ini menceritakan tentang kisah Cerita Dewasa Belanja Cari Istri , cerita ini merupakan kisah nyata yang di alamin oleh salah satu penulis cerita yang di tuangkan menjadi sebuah cerita sex yang membuat nafsu gitu mengebu ngebu. Silahkan di simak langsung Cerita 17+ kali ini :

Cerita Dewasa Belanja Cari Istri - Seorang temanku yang punya jabatan cukup tinggi, mengeluh bahwa nafsu sexnya tidak terlampiaskan oleh seorang istrinya. Padahal menurut dia istrinya cukup mampu mengimbangi permintaannya. 

Namun jika sedang halangan, dia tidak bisa mendapat layanan tempat tidur.Dia mengaku tidak berani main dengan perempuan bayaran. 

Aku bisa mengerti, karena dia adalah termasuk petinggi partai yang berbasis agama. Dulu sebelum dia menjadi apa-apa, kami sering jalan ke panti pijat, bahkan dia juga punya langganan di panti pijat yang mempunyai service body massage, atau dipijat oleh tubuh cewek.

Sikapnya berubah total sejak dia terdeteksi mengidap kanker. Meskipun baru stadium awal, dia takut setengah mati. Berobatlah di ke Singapura selama 6 bulan bolak balik, yang akhirnya sembuh dan dinyatakan bersih dari penyakit kanker. Penyakit itu dianggapnya sebagai teguran agar dia meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat.

Setelah setahun stop sama sekali berhubungan dengan perempuan selain istrinya, muncullah keluhannya soal nafsu sexnya yang terasa terlalu tinggi. 

Meskipun usianya sudah mendekati 50 tahun. Dia berfikir untuk punya istri satu lagi. Istri kedua yang dikawini sah secara agama, tetapi tidak dicatatkan ke catatan sipil. Istri itu pun tentunya akan disembunyikan dari istri pertamanya.

Dia resah mencari sosok yang pantas dijadikan istri. Yang dijumpai selalu perempuan yang hanya ingin harta saja. Aku dimintai bantuan untuk mencarikan perempuan yang ideal dijadikan istri kedua. Aku sanggupi saja dengan menjanjikan akan membantunya. Padahal pada saat itu, tidak terbayang seorang pun perempuan yang layak disodorkan untuk temanku.

Mungkin sudah jalannya, sehingga aku kemudian menemukan akses yang aku sebut akses menakjubkan. Ini juga bukan direncanakan. Perjumpaan secara kebetulan dengan kawan lama, itulah yang kemudian memberi akses. 

Aku kebetulan saja berpapasan dengan dia ketika sedang jalan di Plaza Senayan. Kami lalu berbual-bual mengenai banyak hal sampai berhenti pada satu topik yang menarik. Dia menawariku untuk kawin kontrak. Dia mengaku punya 1 istri yang dikontrak. Kawinnya secara agama adalah sah, karena disebut kawin siri, tapi tidak tercatat di catatan sipil.

Seketika itu juga rasanya aku ingin menelepon temanku yang kebelet punya istri lagi. Tapi aku tahan, karena aku harus membuktikan kebenaran informasi dari teman lamaku ini. Banyak kabar lebih indah dari rupa.

Temanku yang sebutlah namanya Budi, mengatakan ada satu daerah di dekat Sukabumi, yang sudah lazim menerima kawin kontrak. Di daerah itu banyak sekali wanita-wanita cantik. Dia lalu menyebut salah satu nama artis penyanyi yang berasal dari Sukabumi.

“ Kalau yang model kayak gitu banyak,” katanya.

Aku mengorek semua informasi mengenai kawin kontrak itu. Sebelumnya aku sudah mengetahui soal kawin kontrak oleh turis-turis Arab di Puncak. Tapi aku survey, ceweknya kurang memenuhi syarat, alias banyak yang kurang cantik.

Menurut Budi, sangat mudah kawin kontrak di Sukabumi, Tinggal kunjungi daerah itu, lalu pilih perempuan mana yang cocok bayar biaya perkawinannya termasuk maharnya Rp 20 juta. Setelah itu setiap bulan memberi uang belanja 5 juta. 

Perempuannya boleh di bawa ke Jakarta, atau tetap tinggal di kampungnya. Masa kontrak biasanya 1 tahun. Jika perempuannya sudah pernah kawin atau janda biaya maharnya hanya 10 juta. Meskipun janda, tetapi mereka umumnya masih muda, kata Budi.

Untuk membuktikan kebenaran bualan Budi itu aku lalu membuat janji bersama-sama ke Sukabumi. Pada hari yang dijanjikan Aku dan Budi pagi-pagi sekali hari Sabtu sudah memacu kendaraan ke arah Sukabumi.

Budi menjadi penunjuk jalan. Dari jalan raya, mobil kami masuk ke kampung yang letaknya sekitar 3 km ke dalam. Tidak ada yang istimewa tampaknya, biasa seperti kampung-kampung yang lain. Budi berhenti di salah satu rumah, yang rupanya itu adalah rumah salah satu istri mudanya. Dia disambut hangat, bahkan istrinya mencium tangannya. Aku sempat shock juga melihat istri muda Budi, cantiknya diluar dugaanku, masih muda, putih pula.

Tidak lama kami ngopi datang seorang pria paruh baya. Dia memperkenalkan dirinya, Asep, umurnya sekitar 50 tahun. Haris kemarin ternyata sudah mengontak Kang Asep untuk mencarikan perempuan yang layak dijadikan istri.

Tanpa rikuh Asep menunjukkan foto-foto yang tersimpan di HP nya kepada Budi. Si Asep menjelaskan profil satu persatu foto-foto itu. Aku ikut nimbrung nonton foto-foto di HP nya Asep. Ada yang janda, ada yang masih perawan. Kelihatannya Asep sangat menguasai informasi koleksinya.

Aku yang semula tidak berfikir soal kawin kontrak tergoda juga setelah melihat foto-foto itu. Aku lalu berfikir, sekali seminggu ke Sukabumi rasanya tidak terlalu berat. Apalagi biaya rumah tangganya hanya Rp 5 juta per bulan. Aku kepincut dengan salah satu foto yang disebut Asep statusnya janda dari kawin siri. Jika dilihat dari fotonya cewek pilihanku itu cantik banget, kayak bintang film.

Aku ingin melihat fisiknya sebelum nanti memutuskan melakukan kawin kontrak. Asep lalu mengontak cewek yang namanya Ning. Tidak sampai 1 jam muncul sebuah motor bebek dengan pengendaranya seorang cewek. Dia datang sendiri dan masuk tidak lupa mengucapkan salam. Tangan kami masing-masing diciumnya, seperti kami ini Kyai.

Bodynya lumayan montok, wajahnya cantik, umurnya baru 20 tahun, statusnya janda sudah setengah tahun. Pilihanku sudah mantap dan aku putuskan akan mengawininya. Persoalannya adalah aku tidak membawa uang cash 10 juta. Kampung ini jauh pula dari ATM. Si Ning rupanya menangkap kesulitanku, dia menawarkan E-banking aja, karena dia juga punya rekening yang sudah di set E-banking.

Tidak kusangka dan tidak kuduga, bahwa di pelosok kampung ini penduduknya sudah mengenal E-banking. Aku mentransfer dengan melebihkan 2 juta, jadi aku mentransfer 17 juta. Tidak lama kemudian HP si Ning berbunyi dan dia mengatakan transferanku sudah masuk.

Tidak pakai basa-basi si Ning, lalu dia mengajakku di bonceng pulang ke rumahnya. Rumahnya tidak terlalu mentereng, tetapi lumayan rapi dan bersih. Halaman di depannya tidak terlalu luas. Aku diperkenalkan dengan ayah dan ibunya. Dia anak tertua, adiknya ada 2 orang.

Sesungguhnya aku agak canggung, karena baru kenal. Aku pikir apakah mungkin aku ngamar setelah proses akad nikah nanti. Ah pasrah saja, aku berbasa-basi dengan kedua orang tuanya.. Ning berganti pakaian dengan pakaian berjilbab. Setelah itu ayahnya menanyakan kepadaku apakah aku siap, aku katakan siap. Tidak lama muncul seorang bapak, yang dikenalkan sebagai uwak si Ning. Dia akan menjadi saksi. Tanpa proses macam-macam, ritual nikah pun dimulai. Aku dipinjami peci. Ayahnya menjabat tanganku, lalu mengatakan

“ Aku nikahkan anakku …………” aku langsung menjawab saya terima nikahnya dengan maskawin 10 juta rupiah.

“ Sah” kata si uwak.

Selesai sudah, aku resmi menjadi suami si Ning. Aku kontak si Budi, menceritakan bahwa aku sudah punya istri baru, dia tertawa, lalu berjanjikan pulang sehabis maghrib saja, sebab jalanan agak kosong. Tidak ada pesta tidak makan yang istimewa. Aku di ajak makan dengan lauk, ikan mas goreng, sambal, lalapan dan sayur asem serta tahu tempe goreng. Aku memang lapar jadi rasanya nikmat sekali.

Aku menjelaskan bahwa untuk sementara si Ning tinggal saja di sini. Apakah nanti akan aku boyong ke Jakarta atau bagaimana, keputusannya menyusul. Ayahnya tidak keberatan. Perut kenyang , kopi secangkir lagi sudah habis, dan mata mulai mengantuk. Gejala itu ditangkap oleh ayah si Ning.

“ Mari silakan istrirahat dulu. Aku bingung mau istriahat dimana, Ning menarikku ke arah salah satu kamar, yang ternyata adalah kamarnya.

Sebuah kamar yang tidak terlalu besar, tetapi ada spring bed ukuran mungkin 160 cm, ada TV LCD meski ukurannya kecil, ada perangkat meja solek dan sebuah kursi. Kami berdua duduk di bed. Si Ning menawarkan apakah aku mau buang air kecil dulu, karena kamar mandinya di belakang rumah. Aku setuju, karena rasanya agak sesak kencing juga.

Sekembali ke kamar, si Ning sudah berganti dengan daster. Kamarnya tidak ada AC, tetapi karena udara di kampung ini sejuk jadi tidak terasa gerah. Ning membuka pakaian ku satu persatu dan menggantungnya di balik pintu. Tinggal celana dalam, itu pun dilepasnya.

K0ntolku belum ngaceng sempurna, karena masih grogi dengan perubahan hidupku yang demikian drastis. Si Ning juga menelanjangi dirinya dan menghidupkan TV dengan suara agak keras. Dia menarikku untuk berbaring.

Rasanya sulit untuk menyia-nyiakan hidangan yang siap saji di depan mata. Aku memeluk tubuh Ning. Teteknya masih sangat kenyal dan belum terlihat sedikitpun turun. Pentilnya kecil, belum berkembang, menandakan dia belum pernah hamil. Jembutnya jarang, bahkan nyaris gundul. Tangan Ning menggenggam k0ntolku dan dikocok-kocoknya pelan.

Aku bangkit dan menciumi lehernya, lalu turun menjilati dan mengigit pelan kedua pentil teteknya bergantian. Sementara itu tanganku merabai bukit pukinya yang lumayan mentul. Jari tengah mengorek belahan mekinya. Aku menguit-nguit itilnya sampai kemudian celah mekinya mulai berlendir.

Setelah puas menciumi tetek, aku beralih, ke arah mekinya, Aku menciumi mekinya. Si Ning menahanku dan berusaha menarik tubuhku ke atas, Malu, katanya .

Aku tetap bertahan dan lidahku langsung menjilati belahan mekinya dan Ning menggelinjang. Dia tetap berusaha menarikku keatas. Tetapi tenaganya mulai melemah setelah lidahku menemukan itilnya. 

Pinggulnya bergerak-gerak gak karuan, katanya geli, tapi dia mendesis juga. Aku tetap bertahan menjilati itilnya yang terasa sudah mulai menonjol. Jika tadi tangannya berusaha menarik kepalaku menjauh dari mekinya sekarang malah menjambaki dan menekan kepalaku agar lebih lekat dengan mekinya. 

Ning mengerang dan entah apa yang diucapkan dalam bahasa Sunda. Mungkin sekitar 10 menit dia lalu mencapai orgasmenya dengan oral di mekinya. Si Ning berteriak lirih sambil terus mengerang juga sampai orgasmenya selesai.

Dioral merupakan pengalaman pertama baginya. Suaminya yang dulu sudah tua, tidak pernah mengoralnya. K0ntolku yang telah tegak sempurna kuarahkan memasuki gerbang kenikmatan. Perlahan-lahan k0ntolku menerobos celah meki yang sudah setengah tahun tidak pernah diterobos, jadi rasanya sempit juga.

Ning mengeluh mekinya agak sakit, aku dimintanya pelan-pelan. Aku turuti sampai k0ntolku ambles semuanya. Setelah mentok maka aku memompa perlahan-lahan. Si Ning mendesis-desis. Dia hanya menggelengkan kepala ketika kutanya apakah masih sakit. situs judi online

Aku tidak mampu bertahan lama sekitar 10 menit sudah tepancut spermaku masuk di dalam mekinya. Nikmat sekali rasanya menjadi pengantin baru. Ning dengan sabar membersihkan bekas sperma di batang k0ntolku dan dia pun membersihkan lelehan sperma di mekinya dengan tissu.

Aku berbaring kelelahan. Ning mendampingiku. Aku tertidur, karena sejak sehabis makan siang tadi aku sudah agak ngantuk. Mungkin sekitar satu jam tertidur, aku dibangunkan oleh kocokan tangan si Ning di k0ntolku. Dia lalu mengoral k0ntolku sampai jadi tegang kembali. Ning berinisiatif menaiki tubuhku dan memasukkan k0ntolku ke dalam vaginanya. Sambil jongkok digenjotnya k0ntolku. 

Capek jongkok dia bersimpuh dan bergerak maju mundur. Nikmat sekali dan kami main cukup lama. Ning sempat mendapat orgasme sekali baru aku menyusul.

Aku benar-benar lelah. Setelah istirahat sebentar, Ning mengajakku ke kamar mandi. Aku dikasinya sarung dan atasannya aku mengenakan kaus oblong yang kupakai tadi. Sementara itu Ning hanya berkemben handuk yang menutupi sebagian tetek montoknya dan sedikit di bawah mekinya. Aku agak canggung juga keluar dengan Ning yang hanya mengenakan handuk, tetapi karena ini rumah dia, maka mungkin kebiasaan disini memang begitu. 

Aku digandengnya ke kamar mandi di belakang lalu berdua kami mandi. Airnya dingin sekali. Sesungguhnya aku hampir-hampir tidak kuat, tetapi gengsi juga karena si Ning malah mandi junub dan keramas rambutnya. Aku pun mengikuti mandi junub dengan air yang dinginnya luar biasa. Tapi lama-lama airnya terasa hangat.

Setelah selesai Ning kembali mengenakan kemben handuk dan aku juga kembali bersarung masuk kekamarnya. Aku berpakaian kembali dan Ning mengenakan celana jeans dan kaus tank top merah. Secangkir kopi dan singkong dan pisang goreng sudah tersedia di meja.

Jujur saja aku kikuk ngobrol dengan mertuaku yang laki dan yang perempuan. Tapi mereka terlihat wajar-wajar saja sehingga aku pun jadi akrab. Si Ning duduk di sampingku sambil terus-terusan ngelendot. Ini sebenarnya membuatku risih karena rasanya kurang sopan bergelendot di depan orang tuanya. Tapi mungkin di sini sudah jamak yang aku ikuti saja adat mereka. Hari mulai gelap dan tidak lama kemudian Budi sudah meneleponku.

Aku kembali diantar Ning dengan sepeda motor ke rumah istri Budi. Di sana ada pak Asep. Kami ngobrol lagi. Tidak lama kemudian Ning pamit pulang. Aku membujuk Pak Asep untuk mentransfer koleksi foto-foto cewek-cewek yang siap dinikahi. Dia dengan senang hati mentransfer melalui fasilitas bluetooth, bahkan dia berjanji mengirim foto-foto lainnya jika ada yang baru.
Dalam perjalanan pulang aku berdua Budi hanya senyum senyum saja. Dia berencana menambah istri kalau proyeknya kelak goal.

Temanku yang sedang galau ingin punya istri muda, kukontak. Aku mengatakan, ada informasi A-1. Dia tertawa terbahak-bahak, kayak intelijen saja pakai istilah A-1. Kami lalu janjian ketemu di satu cafe setelah jam kerja. Sampai pertemuan itu, aku tidak menyebut bocoran soal yang aku sebut A-1.

Dia masih under-estimate mengenai A-1 yang kumaksud. Setelah kami tenang duduk berdua dan kopi sudah terhidang, baru aku sebutkan bahwa aku tahu suatu tempat untuk mencari istri muda. Aku sebutkan bahwa para calon istri muda itu rata-rata cantik-cantik dan bersedia diajak kawin sebagai istri muda, bahkan mau dikawin kontrak.

“Ah serius nih, aman gak,” katanya.

Temanku sangat bergairah dan ingin cepat-cepat menuju tempat yang kumaksud. Dia membatalkan semua acara yang seharusnya ada tugas keluar kota pada hari Sabtu, tetapi dia memilih pergi denganku. Saking semangatnya dia sudah pula menyiapkan uang tunai sekitar 30 juta di tasnya. Di rumah dia pamit tugas keluar kota.

Dari foto-foto yang ada di HP ku dia memang naksir sekitar 2-3 orang. Namun yang membuat aku risih, adalah pertanyaannya. Dia mencari istri yang jembutnya lebat. Sejak kami sering plesir bersama, idaman dia adalah wanita yang berjembut lebat dan tidak memiliki tato, sedangkan aku sebaliknya, cari kalau bisa yang masih gundul. Karena selera kami berlawanan maka kami tidak pernah menaksir cewe yang sama.

Kami menggunakan kendaraanku, langsung menuju kediaman istri mudaku, Ning. Di sana sudah ada Pak Asep sang mediator. Aku disambut cium tangan oleh istriku dan salam dari segenap keluarga besarnya.

“ Gila istri lu cakep banget, gua naksir juga,” katanya berbisik.

Pak Asep menginformasikan bahwa pilihan temanku itu sudah keduluan diambil orang, tapi masih ada yang baru, tapi masih gadis usianya baru 17 tahun. Temanku agak tertarik, tetapi dia kurang minat karena ceweknya terlalu muda dan masih perawan pula. Dia cari yang usianya sudah sekitar 25 tahun.

Dalam koleksi gambar koleksi gambar Pak Asep, tidak ada stok yang berusia segitu, yang banyak adalah yang lebih muda dari itu. Pak Asep lalu berpikir sebentar, lalu dia mengontak seseorang, kayaknya sesama Kibus (kaki busuk, atau perantara). 

Info yang didapat Pak Asep ada 2 orang, tapi umurnya gak sampai 25, yang pertama namanya Desi usianya 23 baru sekali kawin, dan bukan kawin kontrak, belum punya anak. Yang satu lagi Sufti umurnya 24, juga janda belum punya anak. Keduanya kata temen Pak Asep, cantik-cantik. Temanku belum yakin sebelum melihat fotonya.

Sedang kami sibuk mencari calon istri untuk temanku, Si Ning nyeletuk bahwa dia ada tetehnya, kakak sepupu tapi belum pernah kawin. Si Ning belum yakin jika tetehnya mau dikawin, karena dia baru lulus perguruan tinggi di Sukabumi. Kebetulan rumahnya tidak jauh. Dia lalu menyuruh adiknya untuk memanggil si teteh itu. Tidak sampai setengah jam muncul suara salam dari luar suara yang halus. 

Kami semua menoleh ke pintu. Si Ning berdiri dan berteriak eh teteh, masuk teteh. Aku berdua temanku sempat nganga. Teteh si Ning tubuhnya tinggi, bodynya proporsional, mukanya itu lho cantik sekali dan pakai jilbab. Kami berdua diperkenalkan, tapi salaman nya tidak menyentuh, jarak jauh aja.

Dia memperkenalkan namanya Nabila. Kami tidak sempat ngobrol, karena dia langsung masuk ke dalam. Temanku langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Aku menggoda temanku,

“Perlu ditanya gak jembutnya tebal.”

Temanku menyikut pelan.

“Gua tutup mata aja langsung oke kalau memang dia mau.”

Ning ikut masuk dan agak lama mereka ngobrol di dalam. Ning keluar dan langsung duduk disebelahku. Menurut Ning, tetehnya mau jadi istri muda temanku, tapi dia tidak mau tinggal dikampung di rumah orang tuanya kalau sudah menikah, boleh di Sukabumi, boleh juga di Jakarta. Syarat berikutnya adalah dia ingin mengirim biaya ke orang tuanya setiap bulan 5 juta, untuk membantu biaya sekolah 3 adiknya dan bagi keperluan rumah tangga orang tuanya. Itu saja syaratnya.

Temanku langsung buru-buru setuju. Namun aku mencegah dia terburu-buru. Aku minta temanku dan calon istrinya itu untuk berbicara 4 mata dulu di dalam. paling tidak untuk saling mengenal lebih jauh, Ning setuju usulanku, Aku dan Ning mengantar temanku masuk ke dalam. Mereka berdua duduk di kursi meja makan, dan kami semua kembali kedepan.

Sekitar satu jam mereka berkomunikasi, kami tidak bisa mendengar, karena ruangan ke belakang dihalangi oleh korden. Nampaknya telah terjadi kesepakatan, Temanku keluar bergandengan tangan dengan calon istrinya. Nabila malah tampak manja mengelendot temanku.

Aku heran, melihat sedemikian cepat negosiasi mereka sampai mencapai kesepakatan. Kursi disediakan untuk mereka duduk berdua berdampingan. Sempat ngobrol sebentar sambil menyeruput sisa kopi. Nabila lalu memberi tahu bahwa mereka akan melakukan akad di rumahnya, kami diminta bersama-sama kerumah dia.

Dengan berjalan kaki seperti rombongan lenong, kami menuju rumah Nabila. Rumahnya sangat sederhana, tidak seimbang dengan kecantikan Nabila. Ayahnya sudah tua dan ibunya juga. Memang menurutku tidak pantas temanku menginap dirumah ini, karena pasti Nabila tidak punya kamar pribadi.

Meja kursi langsung di siapkan. Pertama temanku minta izin ke orang tuanya untuk memperistri Nabila. Orang tuanya tidak banyak bicara hanya berkata setuju saja. Setelah itu dimulailah ritual akad nikah. Yang menikahkan adalah ayah Nabila sendiri dan saksinya adalah mertuaku lakiku dan aku.

“Aku terima nikahnya dengan mas kawin 25 juta rupiah,” kata temanku menjawab perkataan ayah mertuanya.

Aku langsung menyambut Barakallah, sah.

Resmilah keduanya menjadi suami istri. Setelah minum kopi lagi dan makan pisang goreng, sementara si Nabila berkemas, aku dan Ning serta rombongan kembali kerumah awal. Si Nabila langsung diboyong ke Jakarta. Aku pun oleh temanku menyarankan memboyong istri mudaku ke Jakarta sekalian.

Gila prosesnya terlalu cepat, karena semua proses tadi hanya berlangsung sekitar 3 jam. Kami berempat sudah kembali berada di mobil menuju Jakarta. Temanku menunjuk satu hotel yang katanya sudah dia book melalui telepon. Aku sempat menanya ulang tujuan hotel yang dipesan temanku itu, karena hotel itu hotel bintang 5. Dia malah membayariku kamar untuk 2 malam.

Sebulan kemudian aku baru bertemu lagi temanku si pejabat itu. Dia menyewa apartemen yang dekat dengan kantornya. Dia bercerita tentang Nabila, menurut temanku dia tidak salah pilih, karena Nabila, budi pekertinya baik, orangnya cantik dan berpendidikan. 

Kelihatan sekali temanku ini sangat kesengsem sama bini barunya. Aku ingatkan dia agar jangan mengumbar hartanya, untuk menyenangkan bini mudanya. Jalani saja hidup bersama dia dengan cara yang tidak berlebihan, karena dengan demikian urusan jadi tidak terlalu merepotkan.

Setelah setahun aku pun menarik si Ning tinggal di Jakarta, karena aku bosan mondar-mandir Jakarta-Sukabumi. Dia kutempatkan di apartemen studio dengan ukuran yang agak luas di pusat kota.
Baru 3 bulan tinggal di Apartemen, Ning sudah mengeluh tidak kerasan. Dia kesepian jika aku tinggal sendirian. Aku memang jarang nginap di apartemen. Memang konsekuensi ini sudah aku kemukakan sebelumnya.

Ning minta ditemani. Dia mengusulkan aku menambah seorang istri lagi dan dia akan tinggal bersama di apartemen. Aku sempat terhenyak sebentar. Usul itu sangat menarik. Setelah aku kalkulasi aku masih sanggup membiayainya. Aku minta jaminan ke Ning apakah dia tidak akan cemburu, jika aku mempunyai seorang istri lagi. Dia berjanji tidak akan cemburu, malah akan berusaha akur.

Anehnya Ning malah menyodorkan salah seorang saudaranya. Kata dia sudah kontak-kontakan dengan orang tua anak itu dan sudah pula berbicara dengan anaknya. Namanya Retno, umurnya sekitar 24 tahun, lulus S-1. Menurut Ning anaknya sudah mau dan orang tuanya juga setuju. Aku melihat beberapa fotonya di HP si Ning, anaknya lumayan cantik dan imut, kulitnya putih.
Menurut Ning anaknya baik, sopan dan tidak rewel. Mungkin karena aku sungkan, ya aku setuju saja. 

Rencana aku menambah istri kukabarkan ke temanku. Dia lalu buru-buru mengundang ke apartemennya. Jam 7 malam aku datang bersama Ning.

Ah aku lupa memperkenalkan kepada pembaca nama temanku ini. Aku biasa memanggilnya Bud, karena namanya Budi. Aku jadi ada hubungan famili dengan Budi karena istri muda kami bersaudara.
Apartemennya lebih besar dibanding punyaku. Dia kan pejabat berpengaruh, mungkin duit korupsinya banyak. Aku sebenarnya ingin juga punya apartemen yang besar, tetapi tentunya harus dua kamar dan masing-masing kamar ada kamar mandinya. Mana ada apartemen seperti itu.

Dari pada pusing aku beli dua apartemen tipe studio dengan ukuran masing-masing 36 m2. Letaknya bersebelahan. Sayangnya agak sulit membuat connecting door.

Budi dan Nabila menyambut kami, secangkir kopi dan kue-kue sudah dihidangkan. Setelah basa-basi sejenak. Budi menanyakan kembali soal aku akan menambah istri. Aku menjelaskan bahwa keinginan untuk kawin lagi, lebih karena dorongan si Ning.

“ Iya pak saya tinggal sendirian di Apartement gak betah, sepi. Mana saya kan penakut, jadi setiap malam saya rasanya selalu ketakutan,” kata Ning.

“Ya si Ning bener Pak, kalau udah di tinggal sendirian rasanya sepi banget, kayaknya bapak perlu istri satu lagi Pak, tapi harus yang cocok ama saya Pak,” kata Nabila menimpali.

Budi diam saja, aku tidak tahu apakah dia sudah cukup terlampiaskan punya istri dua. Tidak lama kemudian Budi berpendapat,

“ Saya sih ikut saja kalau Nabila maunya punya temen, siapa yang di calonkan saya mah setuju aja lah, yang penting Nabila betah.” kata Budi.

Nabila berlalu ke dapur diikuti Ning. Tinggallah kami berdua. Aku bertanya soal istri barunya apakah baik dan sebagainya.

“Wah top banget, kayaknya mau gua resmi in aja, gua lagi cari cara untuk ngomong ke istri tua,” 
katanya.

“Pikir yang matang, karena you itu pejabat penting, jangan sampai karir terganggu. Soal izin ke istri tua jangan buru-burulah, nanti bisa perang dunia,” kataku.

Seminggu kemudian Budi ingin ngobrol sama aku. Dia janjian di coffee shop salah satu hotel. “wah gawat nih,” katanya tiba-tiba. Aku menduga istri tuanya memergokinya.

“Bukan itu, bos,” katanya

“Yang disodorkan Nabila itu adalah saudaranya sekaligus 2 orang. Mereka memang saudara jauh, gimana nih,” ujar Budi.

Aku penasaran ingin melihat foto kedua calon istri yang disodorkan Nabila. Kelihatannya masih belia dan memang cantik-cantik. “Terus masalahnya apa,” tanyaku.

“Ya aneh aja masak sekali nikah dua orang , jadi istri gua semua empat dong,” katanya.

“Apa soal biaya memberatkan,” tanyaku.

“Kalau itu sih gak masalah, tetapi aku khawatir tidak punya cukup waktu untuk berbagi. Ini aja si Nabila hanya gua tengoki cuma seminggu sekali, lu kan tau bos, gua banyak tugas ke luar kota, keluar negeri.

“Ah jangan hanya dilihat soal sexlah, kita kan sudah cukup umur, yang penting bisa bantu orang dan memperluas kekeluargaan,” kata ku.

“Kalau soal sex sih wanita normal cukup sebulan sekali. Biasanya nafsunya tinggi saat masa subur, itu saja. Kalau bisa dua minggu sekali sudah bagus,” kataku

“Justru kalau soal sex gak masalah bagi gua, setiap orang seminggu sekali pun gua masih kuat, tapi kalau mereka menuntut perhatian atau waktu kebersamaan yang lebih banyak itu, yang gua berat bos,” katanya.

“Kalau soal itu hanya tinggal bagaimana memberi pengertian saja, mereka toh sudah menyadari bahwa istri muda tidak bisa menuntut terlalu banyak. Fokus mereka adalah mengangkat kehidupan keluarganya, agar ada yang membiayai untuk hidup layak, itu saja,” kataku.

“Oh gitu ya, mantaplah kalau gitu,” katanya

Pembicaraan terputus, ketika istri-istri kami datang membawa tambahan hidangan. Aku menanyakan kapan akan ke Sukabumi untuk menambah keluarga.

Kami sepakati sebulan ke depan, karena dalam waktu dekat ini Budi masih banyak acara penting. Aku pun menyesuaikan diri dan berencana akan menambah satu istri lagi bersamaan dengan Budi.
Pada Hari yang ditentukan, kami berangkat dari Jakarta sehabis subuh. Aku dan Budi masing-masing membawa mobil sendiri-sendiri. Di tempat tujuan kami berpisah. Segala segala sesuatu sudah dipersiapkan. Akad nikah pertama adalah istri Budi saudara dekat Nabila bernama Laela. Aku dan Ning menghadiri upacara ritual pernikahan. Laela memang cantik, mengenakan jilbab, tingginya sekitar 155 cm, lebih pendek dari Nabila.

Setelah itu Budi dan istri-istrinya menuju rumah orang tua calon istri baruku. Dia bernama Retno, usianya 23 tahun fresh graduate S-1 Ekonomi. Aku suka dengan mukanya yang ayu, bibir tipis, bodynya yang luar biasa. Teteknya kelihatan besar, bokongnya lebar dan yang menjadi kesenanganku adalah pahanya yang gempal. Tingginya sekitar 160. Kulitnya putih bersih seperti rata-rata orang Sukabumi. Dari sorot matanya aku yakin istri baruku ini cerdas. Retno, statusnya masih perawan, dan memang sesungguhnya dia masih dara.

Setelah ritual perkawinan tuntas, kami segera memboyong dengan rombongan makin besar ke tempat perkawinan kedua Budi. Rumahnya agak jauh masuk lagi lebih jauh sekitar 2 km. Tuan rumah calon istri Budi bingung melihat begitu besar rombongan yang datang. Namun Nabila dan Ning sudah mempersiapkan kue-kue untuk hidangan dari Jakarta. Bukan itu saja berbagai macam lauk juga sudah disiapkan. Tuan rumah hanya perlu memasak nasi lebih banyak saja.

Calon istri Budi yang akan dinikahi ini kelihatannya sudah cukup matang. Usianya 24 tahun, pendidikan S-1 juga, tetapi aku tidak tahu jurusannya. Badannya langsing, tapi teteknya gede juga. Mukanya cantiklah, kalau tidak mana mau si Budi. Statusnya masih perawan.

Selesai ritual pernikahan kami menikmati hidangan yang dibawa dari Jakarta. Hidangan nya jadi sangat kontras, karena rumah istri yang baru dinikahi itu sangat sederhana. Dia adalah Sari saudara jauh Nabila. Masyarakat di kampung-kampung ini menganggap anak perempuan adalah asset yang mahal. Dalam perjalanan kembali aku memperhatikan rumah-rumah yang mentereng atau kelihatannya bagus, adalah rumah mereka-mereka yang menjadi istri kontrakan.

Sesampai di Jakarta, aku tidak langsung belah duren, karena apartemen yang akan ditempati Retno belum disiapkan perabot dan peralatan lainnya. Retno tinggal bersama Ning. Aku memerlukan waktu seminggu sehingga unit apartemen Retno sudah benar-benar layak ditinggali. Kamar-kamar mereka aku disain seperti suite room hotel bintang 5.

Tibalah waktu untuk belah duren, Hari itu adalah hari Jumat. Setelah makan siang aku menuju ke apartemen Retno. Dia sudah menantiku. Aku dihadiahi ciuman ketika dia menyambutku di pintu. Badannya terasa bau harum. Pakaian yang dikenakan adalah daster tipis. Mungkin dia sengaja membeli di mall di bawah apartemen ini. Saking tipisnya aku bisa melihat putting susunya yang tidak dilindungi BH dan belahan pantatnya karena dia tidak mengenakan celana dalam.

Aku langsung terangsang dan k0ntolku mengeras perlahan-lahan. Retno sudah siap betul akan dipecahkan keperawanannya. Dia berpendidikan tinggi, sehingga pemahaman soal hubungan suami istri sudah dia sadari.

Aku duduk di sofa sambil melihat tayangan di televisi. Dari belakang bahuku dipijat. Nikmat sekali pijatannya, apalagi aku baru menembus kemacetan, hari Jumat. Sambil memijat dia membukai kancing bajuku sampai terlepas semua lalu melepas bajuku.

Aku senang dia agresif dan sadar akan perannya. Setelah baju digantung, lalu singletku dilepas melalui atas kepala. Aku sudah telanjang setengah badan. Retno duduk bersimpuh, sepatuku dan kaus kaki dilepas. Lalu maju dengan tetap bersimpuh di antara kedua kakiku dan melepas pengait sabuk lalu resleting celana. Perlahan-lahan celanaku ditariknya ke bawah sampai lepas dan digantungkan di dalam lemari. Celana dalam yang tersisa terlihat menggelembung karena penghuninya sudah berusaha berontak dari kungkungan.

Tanpa ragu celana dalamku juga dilepasnya sehingga k0ntolku langsung mencuat tegak perkasa. Aku tidak memberi kesempatan Retno meletakkan celana dalamku, Tangannya kubimbing untuk meremas k0ntolku. Terasa tangannya agak gemetar. Ini pertanda baik, karena dengan demikian dia belum pernah mengerjakan hal ini sebelumnya. Genggamannya juga masih canggung, karena hanya digenggam oleh ujung-ujung jarinya.

Aku mengajarinya menggengam penuh dan melakukan gerakan mengocok. Birahiku naik, baju tidurnya yang tipis aku lepas sehingga Retno bugil di depanku. Teteknya bulat menantang, dengan puting yang masih kecil. Ini karena dia belum pernah beranak. Jembut di bawahnya masih jarang, aku menengarai memang umumnya wanita sunda kurang banyak memiliki jembut.

Aku senang dengan perempuan yang pro aktif, berani mengambil inisiatif dalam soal sex. Retno kutarik duduk ke pangkuanku dengan posisi berhadapan. Kedua susunya yang kenyal aku remas-remas. Dia merintih seperti menangis. Apalagi ketika pentilnya aku jilati dan aku hisap, rintihannya makin keras dan nafasnya makin memburu.

Kuraba mekinya sudah basah berlendir, berarti organnya sudah siap menerima penetrasi k0ntolku. Aku tidak mau buru-buru, karena ingin menikmati secara bertahap. Retno kududukkan di sofa di sampingku. Lalu aku bangkit dan menciumi kembali teteknya dan menghisap pentilnya. Retno sudah terangsang hebat, sehingga dia tidak sadar jika mulutku sudah menciumi gundukan mekinya.

“ Ayah aku mau diapain, “katanya ketika sadar aku sudah berlutut dan mulutku menjilati belahan mekinya. Dia memanggilku ayah mengikuti si Ning.

Aku tidak sempat berbicara, karena lidahku sudah masuk ke dalam belahan mekinya. Kakinya kukangkangkan lebih lebar, sehingga terlihatlah jelas belahan mekinya yang masih rapat. Kedua tanganku membuka bibir mekinya sehingga, tampak jelas detail mekinya bagian dalam. Aku melihat clitorisnya sudah menonjol berwarna merah muda di lipatan atas mekinya.

Serangan lidahku langsung kutujukan ke titik itu. Retno menggelinjang tidak karuan dan merintih dengan suara khas rintihan perempuan ketika sedang menikmati rangsangan. Pinggulnya bergerak-gerak mengikuti gelombang nikmat yang melanda seluruh tubuhnya. Tidak sampai 5 menit dia berteriak dan menyebutkan ,

” aduh-aduh aduuuuuuh,”

Mekinya berdenyut-denyut berkali-kali dan cairan makin banjir sampai menetes ke bawah. Retno tergolek lemas tidak berdaya. Kutanya apa yang terjadi sampai teriak aduh-aduh. Dia mengatakan baru kali ini merasakan kenikmatan kepuasan sex.

Aku katakan masih ada lagi kenikmatan yang lebih dari ini. Aku yakin dia tadi baru menikmati orgasme clitoris. Jika dia menikmati orgasme vaginal pasti dia akan menjerit,
Sebetulnya aku ingin menggendong dia ke tempat tidur, tetapi terlalu berat, sehingga aku membimbingnya saja dan membaringkan di tempat tidur. Aku langsung menindih badannya dan mengarahkan batang kayu yang sudah sejak tadi ingin dipacakkan. K0ntolku agak susah untuk menemukan gerbang vaginanya, karena berkali-kali meleset. Aku kemudian mengambil posisi duduk bersimpuh sehingga bisa melihat arah k0ntol dan gerbang vaginanya.

Setelah tepat di depan Vagina, kepala k0ntolku bisa masuk perlahan-lahan. Retno minta aku pelan-pelan karena mekinya perih. Aku bertindak hati-hati dan melakukan gerakan maju mundur pelan dan pendek, sampai mekinya terbiasa menerima kehadiran k0ntolku. Aku tidak ingin menimbulkan trauma menakutkan pada saat pecah dara ini.

Setelah gerakanku lancar maju mundur dan rasanya juga sudah agak dalam karena seluruh kepala k0ntolku sudah tercelup, masih terhalang oleh selaput daranya . Jika aku tekan, dia akan menarik pantatnya menjauh. Keluhan perih dan sakit berkali-kali dirintihkan. K0ntol kupertahankan mentok di selaput dara. Aku menciumi mulutnya dengan ganas. Sementara itu di bawa sana, k0ntolku berkali-kali aku tegangkan (senam kegel).

Kosentrasi Retno terpecah antara rasa sakit dan nikmatnya berciuman serta remasan di dadanya. Melalui gerakan mengencang dan mengendurkan k0ntolku sambil aku tekan ke dalam perlahan-lahan terasa, ada sedikit kemajuan.

Selaput daranya bisa aku terobos sepenuhnya ketika aku kencangkan k0ntolku dan menguak selaput daranya. Dia berteriak dalam kuluman mulutku. Setelah benteng itu aku dobrak, k0ntolku bisa maju perlahan-lahan tanpa hambatan berarti. Itu pun tidak langsung aku benamkan tetapi, melalui gerakan pelan maju mundur sedikit, maju lebih banyak begitu berkali-kali.

Jepitan mekinya sangat ketat, wajar saja kalau dia merasa sakit, karena dinding vaginanya seperti menyatu dan harus dikuak perlahan-lahan. K0ntolku akhirnya bisa tertancap seluruhnya. Untuk meyakinkan, aku meraba sisa batang yang tinggal. Memang tidak ada lagi sisa. Dalam posisi terbenam itu aku melakukan gerakan kegel berkali-kali. Setiap kali ku keraskan k0ntolku, Retno mengernyitkan alisnya menandakan ada rasa sakit. Setelah dia tidak merespon gerakan kegelku baru aku mulai memompa perlahan-lahan.

Menghadapi meki yang masih perawan ini aku sulit bertahan lama, meskipun malam sebelumnya aku baru menafkahi batin istri tua. Spermaku lepas ke dalam dasar mekinya. Retno menanyakan kenapa rasanya mekinya kesiram air hangat. Aku jelaskan bahwa aku menyemprotkan sperma ke dalam mulut rahimnya.

Aku rendam k0ntolku sampai akhirnya menyusut dan keluar sendiri dari meki. Air maniku meleleh dari celah mekinya kelihatan pula berwarna merah muda. Darah perawannya tercampur mani dan cairan vaginanya. Dibawah pantatnya sudah aku siapkan handuk kecil untuk mengalas lelehan air mani. Batang k0ntolku yang baru keluar dari sekapan meki juga terlihat ada darah sedikit.

Retno mengeluh mekinya masih terasa perih, serta rasanya masih ada bekas k0ntolku di dalamnya. Mungkin bekas jalan masuk k0ntolku di mekinya masih belum terkatup kembali sehingga dia merasa seolah batangku masih mengganjal.

Aku bimbing dia ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa cairan bersetubuh. Retno jalannya tidak normal, karena selangkangannya terasa perih. Ketika dicuci terkena air, mekinya masih terasa perih. Meski begitu dia mengakui bahwa saat penetrasi dan k0ntolku maju mundur tadi terasa juga nikmatnya.

“ Jadi bingunglah ada sakit ada enaknya juga,” kata Retno.

Kami berdua istrihat dengan tidur berpelukan dalam selimut, dia berkali-kali mengatakan sayang ayah. Aku hanya mengelus-elus rambutnya sampai akhirnya aku tertidur. Bangun tidur kami mandi 
air hangat berdua.

Aku dan Retno kembali mengenakan pakaian karena kami akan mengunjungi unit apartemen si Ning. Begitu pintu terbuka, Ning langsung melompat memelukku dengan posisi dia aku gendong. Diciuminya seluruh mukaku,

“Aku kangen ayah, katanya tanpa mempedulikan Retno yang berdiri di sampingku.

Mungkin berat bagi perasaan wanita melihat kenyataan ini, pasangan yang disayangi dipeluk- cium oleh perempuan lain. Tapi Retno kelihatannya sudah siap dengan kenyataan ini, sehingga dia dingin saja melihat sambutan Ning.

“Barusan belah duren ya,” kata Ning

“Ih teeh Ning malu ah,” kata si Retno.

Kami berkelakar bertiga. Aku berusaha memberi perhatian yang sama kepada kedua istri-istriku. Ning meski lebih muda, tetapi pengalaman sexnya sudah mumpuni. Tapi dasar si Ning gila batang dia tidak peduli dengan kehadiran Retno. 

Aku diciuminya dan k0ntolku remas-remas. Aku biarkan saja ketika tangannya membuka celanaku. Dia berusaha mengeluarkan k0ntolku dari sarangnya tanpa membuka semua celanaku. Sesaat kemudian dia sudah mengulum k0ntolku dengan gairah tinggi. K0ntolku belum terlalu keras, karena habis bertempur. Retno agak jengah melihat kelakuan Ning. Aku menangkap isyarat itu, maka kutarik ke dalam pelukanku. Aku cium bibirnya. Pada awalnya dia tidak merespon, alias diam saja. Namun mungkin birahinya bangkit, apalagi tanganku meremas-remas teteknya dari luar bajunya.

Aku berusaha memasukkan tangan ke dalam bajunya dan membuka pengait BH, agar tanganku bisa langsung menyentuh payudaranya. Pentil adalah salah satu kelemahan Retno, sehingga dia jadi lupa diri setelah pentilnya aku pelintir-pelintir. Dia mulai mengerang lemah. Agak susah mulutku mencapai teteknya untuk menhisap pentilnya. Retno paham keinginanku dia menyelak bajunya dan memberi susunya untuk aku kenyot. /sementara itu k0ntolku di bawah sana makin keras akibat dikerjai si Ning.

Tanganku meraba selangkang Retno dan langsung masuk ke dalam celana dalamnya. Belahan mekinya sudah berlendir licin. Aku jadi lega, karena dia sudah terangsang. Aku mengguit-guit itilnya.
Sementara itu si Ning sudah berhasil melepas celanaku dan dia tanpa rasa malu, duduk diatas k0ntolku dan memasukkan ke mekinya. Entah kapan dia sudah melepas semua pakaiannya sehingga bugil. Sambil telanjang dia menggenjot k0ntolku yang sedang imum, meskipun tegang. Sedangkan si Retno duduk berselonjor menikmati permainan jariku di itilnya. Si Ning menjerit-jerit sambil main kuda-kudaan, sedangkan Retno merintih nikmat karena itilnya dipermainkan.

Tidak lama kemudian, Ning mengerang keras, karena mencapai orgasme dan ambruk ke dadaku. Retno sudah pada tingkat menjelang orgasme sampai akhirnya badannya berjingkat-jingkat menikmati kepuasan puncaknya. Aku membimbing keduanya ke bed besar, dan si Retno kulucuti semua bajunya.

Aku lalu merangkak diantara paha Retno lalu membenamkan k0ntolku perlahan-lahan. Retno masih mengernyitkan alisnya pertanda masih ada rasa sakit. Namun gerakan genjotanku berikutnya dia sudah mulai merintih perlahan-lahan. Aku sudah paham letak G-spotnya sehingga aku mengusahakan agar k0ntolku menggerus g-spotnya. Badannya terlunjak-lunjak saat k0ntolku mengerus, G-spotnya. Dia sudah melupakan rasa sakit. Sekarang sedang menghadapi gelombang besar orgasmenya. Kedua kakinya tiba-tiba merangkul badanku sehingga aku tidak bisa bergerak. K0ntolku seperti dipijat-pijat oleh vaginanya ketika dia mencapai orgasme. Terasa panjang betul denyut orgasmenya dan teriakan si Retno juga keras sekali, tetapi seperti orang menangis.

Aku duga dia mencapai orgasme yang tertinggi. Dia kemudian melemaskan badannya dan matanya terkatup rapat. Aku memberi hadiah ciuman hangat sekitar satu menit. Aku dipeluknya erat.
Ning yang melihat Retno mencapai orgasme dengan teriakan kencang, jadi terdorong untuk mengajakku berkayuh di mekinya. K0ntolku masih cukup perkasa, dan gelombang orgasmeku rasanya masih jauh. Permintaan Ning aku penuhi dan aku genjot dengan posisi gerusan di G spotnya. Ning sekarang yang meraung-raung seperti orang lupa diri.

Retno menonton pertunjukan kami, aku jadi terangsang karena ditonton dan juga raungan si Ning, jadi makin syur rasanya sehingga akhirnya tercapai juga orgasmeku. Pada saat kusemprot spermaku yang tidak seberapa, Ning berteriak, karena dia rupanya mendapat orgasmenya juga. Badanku dipeluknya erat dan aku merasa gelombang panjang berkali-kali memijat k0ntolku.

Sejak saat itu tidak ada lagi rahasia antara kami bertiga. Orgy selalu kami lakukan baik di unit Ning maupun di unit apartemen Retno. Mereka lama-lama menuntut agar tinggal di satu unit apartemen saja. Karena dengan demikian bisa selalu bersama sepanjang waktu. Aku menemukan apartemen seperti yang mereka minta, dan kamar utama ditempati si Ning, kamar kedua menjadi kamar Retno. Meski begitu mereka selalu tidur bersama.

Tanpa terasa sudah setahun berlalu. Aku mengajak bertemu temanku Budi. Dia berkeluh- kesah mengenai beratnya melayani keinginan sex istri-istrinya, kalau soal biaya tidak pernah menjadi masalah. Praktis ada 4 istri yang harus dipenuhi nafkah batinnya. Dia minta saranku, bagaimana cara mengatasinya.

Kendalanya adalah dalam sebulan Budi hanya ada sekitar 20 hari, bahkan kadang-kadang hanya setengah bulan. Dalam kurun waktu itu harus 4 istri yang diberi perhatian dan digilir sexnya. Jika dulu dia mengenluh nafsu sexnya banyak tidak tersalur, sekarang keluhan itu malah sebaliknya. Di minta saran aku. Untuk menceraikan beberapa istrinya, Budi merasa kasihan dan tidak tega, karena mereka semua sangat menyayanginya.

Aku menyarankan agar setiap istri diberi kesibukan kerja, sehingga pikiran mereka tidak terfokus pada suami saja. Istriku Ning sekarang sudah enjoy dengan salon kecantikannya sedangkan Retno asyik dengan usaha travel.

Saran itu diikuti Budi, Semua istri-istrinya diberi usaha. Dia memberi masing-masing istrinya sebuah minimarket yang dibeli dengan sistem waralaba. Dari hasil waralaba itu, istrinya dibebaskan membuka usaha lain yang disukainya. Setelah itu mereka sibuk dengan masing-masing urusannya sehingga Budi bercerita dia hanya menggilir istrinya sebulan sekali. Pergaulan dengan para istrinya bukan terfokus pada sex tetapi sudah beralih pada masalah bisnis.

Bagaiman Dengan Cerita Dewasa Belanja Cari Istri ? Seru bukan ? Dan jangan lupa untuk di simak Cerita Dewasa lainnya Seperti di bawah ini :

Cerita Dewasa Phone Sex Dengan Orang Yang Kurindukan

Cerita Dewasa Phone Sex Dengan Orang Yang Kurindukan

Cerita Dewasa Phone Sex Dengan Orang Yang Kurindukan

Cerita Dewasa kali ini menceritakan tentang kisah Cerita Dewasa Phone Sex Dengan Orang Yang Kurindukan , cerita ini merupakan kisah nyata yang di alamin oleh salah satu penulis cerita yang di tuangkan menjadi sebuah cerita sex yang membuat nafsu gitu mengebu ngebu. Silahkan di simak langsung Cerita 17+ kali ini :

Cerita Dewasa Phone Sex Dengan Orang Yang Kurindukan - Malam itu seperti biasa Tania tidur sendiri di kamar kost-nya. Tetapi Tania tidak bisa tidur sama sekali. 

Bayangan percumbuan yang serba singkat di dalam mobil beberapa hari yang lalu kembali muncul di matanya yang mencoba tertutup. Rumah besar tempat kostnya di bilangan Jakarta Selatan itu terasa sepi sekali.Sudah seminggu ini 

Tania tidak berjumpa dengan aku di kantor, karena memang aku sedang melakukan presentasi ke luar kota. Hari itu sebenarnya adalah jadwalku untuk kembali masuk ke kantor, namun aku belum juga datang. 

Siang tadi Tania telah berulang kali menelphone HP-ku, namun tidak aktif. Perasaan khawatir sedikit muncul dibenaknya, bercampur dengan rasa kangen yang luar biasa.

Lalu ia pun berniat mengontak aku di rumah, tetapi niat tersebut diurungkan. Bukan saja karena Tania tidak mau melanggar komitmen untuk tidak menggaguku di rumah, tetapi juga karena ia sendiri merasa sungkan bila ternyata telphonenya nanti diangkat oleh orang lain di rumahku. 

Siapa orang itu dan apa kata orang itu nanti, kalau ia sampai mencari-cariku ke rumah?

Kini, ketika matanya tak juga mampu terpejam tidur, ia menyesal kenapa tak memberanikan diri mengkontakku tadi siang. Menyesal karena merasa dirinya terlalu ragu-ragu bertindak.

Tak lebih 15 kilometer jauhnya dari kamar tidur Tania, aku juga sedang terlentang sendirian di ranjang besar di kamar tidurku dengan mata nanar memandang langit-langit. 

Aku juga tidak bisa tidur malam ini, walau separuh laporan perusahaan yang penuh angka dan paling menjemukan telah habis aku baca. 

Entah kenapa, malam ini aku begitu merindukan Tania. Mungkin karena telah seminggu ini kami tidak berjumpa, sehabis kejadian malam yang indah di dalam kemacetan Jakarta itu. 

Sedang apa dia sekarang? Apakah sedang dicumbu oleh kekasihnya yang lain? Apakah ia sedang bersama dengan teman manajerku itu? Pikiran terakhir ini sangat menggangguku, membuat aku terbakar cemburu selain birahi. Sungguh menggelisahkan!

Aku meredupkan lampu baca di kamar tidur dan menutup rapat pintunya. Sejenak aku memandang ke arah pesawat telephone di sisi ranjangku. 

Haruskah aku menelphone Tania sekarang, malam-malam begini? Segera aku angkat gagang telephone, namun sebelum sempat memutar nomer telephone-nya, perasaan ragu-ragu menggugurkan keinginanku dan aku meletakkannya kembali ke atas pesawatnya. 

Bagaimana kalau ia sedang bersama orang lain saat ini? Ahh.. tetapi rasa rinduku yang menggebu-gebu mengalahkan segalanya.

Ketika Tania hendak mulai memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.

“Siapa..?”, ujarnya sedikit malas.

“Nia, ada telephone untuk kamu di depan”, ujar suara Eni teman kostnya dari balik pintu.

“Dari siapa..?, Tania bertanya lagi.

“Nggak bilang namanya, cuman katanya dari kakakmu, tapi suara cowok, kakak yang mana sih..?, temannya menjawab dengan penuh selidik.

Tania bergegas bangkit dari ranjangnya, ia tahu persis siapa ‘kakaknya’ itu. Lalu sambil membuka pintu kamarnya ia berkata, “Terima kasih yaa.. En, dia memang kakakku yang baru datang dari Malang..”. 

Tania terpaksa sedikit berbohong kepada temannya mengenai siapa ‘kakaknya’ itu. Ia tidak ingin teman-temannya tahu mengenai siapa ‘kakaknya’ itu, terlebih pada Eni teman sebelah kamarnya yang terkenal suka menggosip.

Tania lalu melangkah cepat ke ruang tamu yang berseberangan dengan kamarnya. Ketika ujung gagang telephone telah diangkat ke telinganya terdengar suara lelaki yang sudah sangat diakrabinya.

“Halo Nia, ini Mas..”, aku menyapanya.

“Halo Mas, ini lagi di mana..”, ujar Nia dengan nada gembira yang sengaja disembunyikannya.

“Lagi di rumah dong.., Nia sudah mau bobo’ yaa..?”, tanyaku lagi.

“Ahh.. belum kok, Nia belum ngantuk..”, jawab Nia sedikir berbohong.

“Kenapa..?”, tanyaku lagi.

“Abis, Nia mikirin Mas.., ‘kan mestinya hari ini udah masuk kantor”, Nia berkata dengan penuh terus terang.

“Terima kasih.., kamu inget sama Mas, soalnya tadi Mas masih capek banget, jadi masih males masuk ke kantor. Tapi ngomong-ngomong, presentasi-nya sukses lho, Nia. Makasih yaa.. buat bantuanmu nyiapin materi”, ujarku beralasan.

“Sama-sama, Mas.. Selamat yaa..”, ujar Tania menimpali pernyataanku.

“Iyaa.. iya.. kalau aku sukses kan berkat kamu juga, jadi sukses kita sama-sama kan. Ehh.. ngomong-ngomong kamu lagi di ruang mana nih?”

“Di ruang tamu, mas”

“Lagi banyak orang nggak di situ”

“Ada si Eni yang lagi nonton TV, yang lain udah pada bobo’. Ehh.. Mas, telephone-nya aku bawa ke kamar dulu yaa..”, bisik Tania pelan.

Ia berkata demikian karena khawatir Eni akan menguping pembicaraan mereka. Kebetulan karena letak kamar Tania dekat dengan ruang telephone itu, maka kabelnya dengan mudah bisa ditarik ke kamarnya melalui jendela.

“Mas, sekarang udah aman, nggak ada siapa-siapa.. nggak ada yang nguping”, Tania memberi sinyal kepadaku.

“Nia, Mas kangen.. nih sama kamu, pengin melukin kamu..”, aku mulai mengatakan perasaanku yang sebenarnya.

“Ahh.. Mas, Nia juga kangen tapi gimana dong..?”, Tania berucap pelan.

“Mas pengin banget bercinta dengan kamu, sekarang..!!”, aku berkata jujur.

Tania sedikit kaget mendengar pernyataanku yang straight forward itu. Namun dalam hati ia mengagumi caraku yang tetap halus namun tanpa basa-basi itu.

“Nia, juga.., tapi gimana”, ujar Tania kembali.

“Nia bantuin Mas yaa..”, aku meminta kepadanya.

“Bantuin apa..?”, ujar Tania bingung.

“Bantuin biar rasa kangen Mas terobati”

“Nia mau mbantuin Mas apa saja, sepanjang Nia bisa. Nia mau Mas bahagia”, ia menjawab permintaanku dengan nada lirih hampir berbisik.

Mendengar pernyataannya yang terakhir itu, aku makin tidak bisa mengendalikan perasaanku, dan akupun semakin ingin membayangkan ia sedang berdiri dihadapanku saat ini. Aku ingin sekali..

“Nia pakai baju apa sekarang?”, aku bertanya lagi.

“Pakai daster warna merah muda.., Mas pakai apa”, Nia balik bertanya.

“Ehmm.. Mas cuman pakai celana tidur satin hitam, nggak pakai apa-apa lagi.. Kamu pakai apa di balik dastermu Nia..?”

“Nia nggak biasa pakai bra kalau mau tidur, tapi masih pakai celana dalam warna krem”

“Yang ada renda-rendanya itu?”, aku bertanya penuh rasa penasaran.

“He.. em”, ujernya pendek.

Itulah awal pembicaraan kami di telephone yang dipenuhi oleh percakapan penuh rasa romantisme yang membakar sensualitas fantasi kami. Lalu kami saling bercerita canda panjang lebar untuk menanyakan keadaan masing-masing. Suara Nia yang memang sangat seksi ditelingaku itu, seolah mendesah-desah penuh manja, membuat kejantananku semakin menegang terangsang di balik celana tidur satin yang aku kenakan.

Ditengah-tengah percakapan yang makin mendebarkan itu, Tania menggeletakkan tubuhnya setelah bosan tidur miring. Kamar tidur sengaja ia gelapkan, karena ia ingin suasana percakapan itu semakin romantis, selain itu ia memang tidak akan bisa tidur dengan cahaya yang terlalu terang. 

Ah, tiba-tiba darah Tania berdesir karena rasanya ia masih bisa mencium bau wangi tubuhku. Bau yang kini mulai diakrabinya: segar dan penuh aroma kejantanan. 

Tidak seperti tubuh lelaki lain di kantornya yang terlalu penuh minyak wangi sehingga berkesan sintetis. 

Ah, kini ia mulai membanding-bandingkan antara aku dengan teman-temannya yang lain, keluh Tania dalam benaknya.

“Mas..,” bisiknya perlahan sambil menelungkupkan muka ke bantal, “Apa yang ingin Mas lakukan kepadaku?”

“Nia, Mas sedang membayangkan kamu. Kamu mau tahu nggak yang sedang Mas bayangkan..?”, aku berujar pelan.

“Hee em..”, Tania mendesah lagi mengiyakan.

“Mas membayangkan sedang mencumbumu. Tangan Mas sedang membelai setiap centi kulit indahmu. Bibir Mas sedang mengusap-usap lembut rambut-rambut halus di belakang telingamu, lalu beralih ke bibir indahmu”, aku mulai menceritakan fantasiku kepadanya.

Di depan mataku seakan-akan ada sebuah film yang diputar berulang-ulang, berisi gambar indah percumbuan kami yang sangat singkat tetapi sangat menggairahkan itu. Bibir basah yang merekah pasrah itu, tergambar jelas di mataku. 

Harum nafasnya yang menggairahkan itu, tercium jelas di hidungku. Kelembutan lidah dan bagian dalam mulut itu.. hmm, semuanya terasa seperti nyata malam ini. Amat sangat nyata, sampai-sampai aku menelan ludah berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang, seperti ketika waktu itu aku melumat bibir bidadari yang amat aku dambakan.

“Teruss..?”, Tania berucap pelan sambil mulai memejamkan matanya.

Bayangan percumbuan kami di dalam mobil seminggu yang lalu nampak jelas di pelupuk matanya.
Tania masih ingat betapa aku mengulum lembut bibir tipisnya dengan luapan perasaan yang apa adanya. Betapa menggairahkannya ciuman itu! Aku melakukannya dengan sepenuh hati, sehingga rasanya tidak setengah-setengah. Ketika aku mengulum bibirnya, aku melakukannya dengan penuh perasaan, membuat dirinya terbuai-buai bagai tidur di atas awan di angkasa sana. Tak sadar Tania meraba bibirnya dengan ujung jari. Ia dengan mudah bisa merasakan kembali ciuman itu. Tak mungkin ia bisa melupakannya.

“Terus bibir Mas turun ke arah lehermu. Lalu Lidah Mas menyapu-nyapu lembut di sana dan kamu 
merasa geli tetapi juga nikmat.. Kamu bisa merasakannya, ‘yang?”, aku melanjutkan.

“Oocch.. iyaa.. Mas, teruss..”, Nia semakin tidak sabar menuggu kelanjutannya sambil jemari tangannya membelai-belai lehernya sendiri, mengikuti fantasiku. Jemarinya mengalir pelan di sepanjang lehernya yang jenjang, sesekali berhenti di belakang telinganya lalu mengalir turun ke arah dadanya.

“Bibir Mas semakin turun ke bawah, turun.. dan turun pelan-pelan sekali. Sekarang, Mas sedang melumati kedua puting payudaramu, bergantian yang kiri.. lalu yang kanan.. Tangan Mas meremasnya lembut.. Ooocch.. Nia, Mas rasanya nikmat sekali.. Kamu juga merasakan hal yang sama, sayang?”, aku berhenti sejenak. Aku mendengar Tania mendengus pelan..

Tania tidak kuasa melupakan betapa dadanya yang kenyal dihisap oleh bibirku dan diremas oleh tangan kokohku itu. Oh, itulah cumbuan dan remasan yang tak kalah menggairahkan dari ciuman dibibirnya. Jemari dan bibiriku seperti penuh oleh energi pembakar sukma yang mengirimkan jutaan bulir kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Tak sadar, Tania mengerang kecil, meremas seprai dengan satu tangannya. 

Ia seperti merasakan lagi hisapan dan remasan jemari itu di dadanya. Gesekan nilon tipis pakaian tidurnya tiba-tiba seperti mewakili remasan itu. Ia tidur tanpa beha. Oh, kedua putingnya ternyata sudah mengeras. Kenapa jadi begini? Keluh Tania sambil mengerang lagi, lalu memiringkan badannya, meraih bantal guling. situs judi online

Lalu kembali aku melanjutkan fantasiku “..putingmu, keduanya mulai mengeras dan semakin mengeras. Warnanya merah kecoklatan, kecil, panjang dan makin menjulang.. Mas juga menciumi lingkaran coklat di sekelilingnya, bergantian yang kiri dan yang kanan. Kamu mulai menggelinjang.. kamu meremasi rambut Mas dan menekan kuat-kuat kepala Mas di dadamu”, aku menceritakan fantasiku sambil membayangkan seolah-olah aku memang melakukan aktifitas itu.

“Oocch.. Mas, teruskan..”, Tania mendesah lagi ketika aku terdiam sesaat.

Tangannya meraba lembut di atas dadanya, dan ternyata memang benar.., putingnya telah mulai mengeras. Ia tersenyum sambil matanya tetap terpejam, sementara telinganya tetap berkonsentrasi penuh untuk mendengarkan suaraku di seberang sana.

“Tanganmu kini juga mulai meremas-remas lembut kejantanan Mas di bawah sana. Nia.., kamu memang luar biasa.. Kamu mengusap sepanjang batangnya, pelan-pelan ke atas lalu kebawah lalu ke atas lagi. 

Remasan jemarimu berhenti di pangkal bagian atasnya yang membulat keras, lalu sesekali jari telunjukmu menyentuh-berputar pada lubang di ujungnya. Kamu mengusapnya lagi ke arah bawah pelan sekali, kamu meremasi ke dua bola di pangkal bawahnya, kamu memeras, meremasnya di sana.. Oocchh..”, aku berhenti sejenak.

Tanganku tetap bergerak-gerak di bawah sana melakukan aktifitas seperti yang aku ceritakan kepadanya.

Udara dingin menyebabkan aku harus menyelimuti badanku, tetapi sentuhan selimut di atas kejantananku yang hanya tersaput celana dalam tipis ternyata berdampak lain. Kenangan erotis tentang Tania membuat diriku terbakar birahi. Perlahan tapi pasti, kejantananku menegang. Semakin lama, semakin tegang, berdenyut penuh gairah.

“Oocchh.. Mas.. Nia juga sedang membayangkan hal itu terjadi sekarang”, Nia pun mulai benar-benar hanyut dalam fantasi yang sama denganku.

Kira-kira hampir semenit kami berdua hening, tidak bersuara. Kami benar-benar sedang terhanyut dalam sensasi seksual masing-masing, sementara masing-masing tangan kami yang terbebas dari gagang telephone melakukan aktifitas untuk membangkitkan gairah. Suara dengusan, rintihan pelan dan hembusan nafas panjang saling menimpali, membuat suasana semakin romantis. Ketika aku semakin tidak kuasa menahan rasa geli, nikmat di bawah sana, aku menghentikan aktifitas tanganku. Aku mengangkat sedikit tubuhku dan dengan sekuat tenaga aku turunkan sedikit celana tidurku dengan satu tangan, untuk memberikan keleluasaan pada kejantananku.

“Tania,” bisikku, “Sedang apa kamu di sana? Kamu mau tahu nggak apa yang Mas barusan lakukan?”

“Hee.. emm..”, desahnya pendek.

“Celana tidur Mas sekarang telah terlepas, kejantanan Mas sudah tegak menegang, kamu masih ingat jelas bentuknya ‘kan? Sekarang maukah kamu melepas celana dalam kamu juga ‘yang..?”, aku menceritakan keadaanku sekaligus memohon kepadanya untuk melakukan hal yang sama.

“Iyaa.. Mas, sekarang Nia juga sudah terbebas..”, ujar Tania mengabulkan permintaanku. Celana dalamnya telah beranjak ke bawah pahanya. Sebenarnya sudah sedari tadi ia ingin melakukan hal itu.

Angin dingin menimbulkan suara berkesiut di luar jendela kamar tidur Tania. Ia menelentang kembali, kini dengan mata terbelalak sepenuhnya. Kamar tidur yang senyap itu sebenarnya dingin sekali. Tetapi tubuh Tania seperti dibakar api, dan ia terkejut sendiri ketika tak sengaja tangannya menyentuh selangkangannya. Celana dalamnya agak basah, dan sebuah rasa geli yang telah lama ia tak rasakan ternyata muncul di sana.

“Oh, aku begitu terangsang malam ini”, desah Tania panik di dalam hati.

“Jangan dulu kamu sentuh yang di bawah sana, Nia. Please, tanganmu tetap berada di atas. Sekarang kamu arahkan jemari ke mulutmu, lalu kamu hisap pelan, kamu jilat basah hingga pangkal jemari telunjukmu..”, aku melanjutkan permohonanku.

“He.. emm..”, Nia mendesah sambil mulai memasukkan jemari ke dalam mulut kecilnya.
Jemarinya basah oleh cairan ludahnya sendiri, ia sedang mengkhayalkan sebentuk daging bulat, panjang, lebih besar dan lebih keras dari sosis. Ia mengulumnya pelan, dan sesekali menghisapnya dengan sepenuh perasaan.

“Please, sekarang jemarimu yang basah kamu tarik dari mulutmu, Nia. Kamu usapkan jemarimu di mana sekarang, ‘yang..?”

Cepat-cepat Tania memindahkan tangannya, tetapi tangan itu jatuh di atas dadanya. Untuk sejenak, ia mencoba mengatur nafasnya yang mulai terengah, tetapi tanpa diperintah tangan itu ternyata mulai meraba-raba. 

Tania menggelinjang. Tania mendesah gelisah. Rasa geli menyelimuti puncak-puncak dadanya. Rasa geli yang minta digaruk. Maka menggaruklah jemari-jemarinya, mengusap dan membelai pula. 

Gagang telephone ia jepit di antara pundak dan kepalanya, dua tangan kini ada di dadanya. Dua-duanya mereMas, mengusap, menggaruk, membelai.. Tania mendesahkan namaku berkali-kali dengan bisikan tertahan; kuatir teman di sebelah kamar kost-nya terbangun.

“Oocchh.. Mas, Nia sedang memilin lembut puting Nia. Oocchh.. Mas.. keras sekali, Nia ingin Mas menggigitnya, Nia ingin Mas meremasinya.., pelan saja Mas..”, Tania berkata demikian sambil jemari telunjuk dan jempolnya memilin-memutar putingnya dengan lembut.

“Iya.. Sayang, Mas sedang menjepitnya dengan bibir Mas, lalu lidah Mas menyapu-nyapu lubang di ujung putingnya.. Enak sayang..?”, akupun tak kalah dalam mengimbangi fantasinya.

“Iyaa.. Mas.., sekarang tangan Nia ada di atas perut Nia”, Tania melanjutkan.

“Iyaa.. sayang, bibir Mas sekarang sedang mencium lembut perutmu yang putih. Lidah Mas berputar-putar di sekitar pusarmu. Lalu Mas turun ke pangkal pahamu.. Terus bibir Mas berhenti di sana..”, aku berhenti untuk menunggu reaksinya.

Tania tak tahan lagi. Dengan satu tangan tetap meremas-remas dadanya sendiri, ia mengusap-usap kewanitaanya dengan tangan yang lain. Celana nilon tipis masih menutup sebagian di sana, tetapi tentu saja tak mampu mencegah rasa nikmat yang datang dari telapak tangannya. 

Apalagi kemudian Tania menelusupkan tangan itu ke balik celana dalamnya, menemukan lembah sempit di bawah sana telah basah oleh cairan cinta. Menemukan pula tonjolan kecil di bagian atas telah menyeruak keluar dari persembunyiannya, menonjol diam-diam menanti sentuhan jarinya.

“Oochh..”, Nia mengerang pelan sementara jemarinya kini tengah berada tepat di atas gerbang kewanitaannya yang telah terbebas.

Ia benar-benar telah memelorotkan celana dalamnya.

“Lalu Mas menyentuhi rambut kewanitaanmu dengan bibir Mas. Lalu Mas menjilat-jilat lembut bibir kewanitaanmu di bawah sana. Lalu Mas gigit pelan klitorismu.. Mas hisap.., Mas.. gigit, Mas.. hisap lagi. Telunjuk Mas sesekali berputar-putar di atas daging kecil merah itu..”, aku kembali mengendalikan fantasinya.

“Oocch.. Mas, Nia pengin Mas.. Nia pengiinn.. oochh.. sekarang..”, Nia tidak kuasa meneruskan kata-katanya.

“Iya.. sayang, Mas juga.. Mas sekarang akan memasukkan jemari Mas ke dalam kewanitaanmu Nia..”, aku berbisik lembut kepadanya.

“Oocchh..”, Nia mengerang pelan.

Tania menggigit bibir bawahnya, tersentak bagai tersengat listrik, ketika ujung telunjuknya tak sengaja menyentuh tonjolan kenikmatan itu. Sebuah desah cukup keras menghambur keluar dari mulutnya. Untung teman-teman sekostnya sudah terlelap sehingga mungkin tak akan terbangun walau Tania berteriak sekali pun.

“Jemari Mas masuk.., berdenyut lembut di dalam sana. Kamu menghentak, kamu menjepit. Jemari Mas keluar.. masuk.. keluar.. masuk.. pelan sekali.. lembut sekali.. Semakin licin, kamu semakin berdenyut, kamu menggelepar pelan..”, aku berkata demikian sambil semakin keras mengocok kejantananku sendiri.

Aku meraba-raba kejantananku. Mengerang pelan karena merasakan tubuhku mulai bereaksi seperti biasanya, menyebabkan semua ototku terasa menegang, bagai seorang pelari yang sedang bersiap-siap melesat dari garis start. Kejantananku sudah menegang setegang-tegangnya. Bergetar seirama degup jantungku yang tak teratur. Naik turun seirama nafasnya yang mulai memburu.

Mula-mula, aku hanya mengusap-usap kejantananku di atas kulit lembutnya. Mengelus-elus perlahan, menimbulkan rasa geli yang samar-samar, seakan-akan untuk memastikan bahwa segalanya berjalan perlahan menuju tempat tujuan. Tetapi, sebentar kemudian gerakan tanganku semakin cepat, bukan lagi mengusap tetapi menguyak-uyak. Nafasku semakin memburu. Rasa geli yang nikmat tersebar sepanjang kejantananku yang terasa bagai batang besi panas membara.

“Mas.., sekarang Nia benar-benar sudah basah.., Nia ingin bercinta dengan Mas.. Masukkan kejantananmu sekarang Mas, please..”, sekarang giliran Nia yang memohon kepadaku.

“Iya sayang.., kejantanan Mas juga sudah keras menegang. Sekarang Mas mengarahkannya ke dalam gerbang kewanitaanmu, tanganmu meremas batang kejantanan Mas, sembari mengarahkan ujungnya ke sana. Mas mengusapkan pada bibir kewanitaanmu, Mas merasakan basahnya cairan cintamu, lalu Mas melesak pelan”, aku berkata dengan cepat sambil tanganku semakin keras meremasi kejantananku.

Aku tak tahan lagi. Tanganku memelorotkan celana tidurku makin jauh, meremas batang tegang yang membara di bawah sana. Lalu dengan tidak sabar aku memelorotkan lagi celana tidurku hingga ke mata kakiku, hingga kini kejantananku bisa benar-benar terbebas, tegang menjulang. Jemariku meremasinya, membelai di sepanjang batangnya.., pelan sekali.., lembut sekali.. dari atas ke bawah, keatas, kebawah lagi.. Segera aku merasakan pinggulku bagai berubah menjadi kaldera gunung berapi yang penuh lahar menggelegak. Setiap kali aku mereMas, setiap kali pula gelegak itu bagai hendak meluap keluar. Setiap kali pula aku mengerang dengan otot leher menegang seperti seorang yang sedang menahan sesuatu dengan susah payah.

Remasan tanganku semakin lama semakin teratur, diikuti gerakan naik turun seperti memeras. Setiap kali gerakan itu sampai ke ujung yang membengkak-membola itu, aku merasakan tubuhku seperti disedot ke dalam pusaran air birahi. Aku menggeliat-geliat keenakan. Kedua kakiku merentang tegang, dengan tumit tenggelam dalam-dalam di kasur. Aku mengerang.

“Ooochh.., teruskan Mas..”, Tania berbisik sambil mengangkat kedua pahanya untuk mempermudah usapan jemarinya di bibir kewanitaannya.

“Lalu Mas mendorong senti, demi senti. Kakimu menggamit kuat erat pinggang Mas. Pinggulmu mulai bergoyang pelan membantu perjalanan Mas, dan Mas merasakan ujung kejantanan Mas kini telah menyentuh dinding kewanitaanmu yang terdalam”, aku merasakan cairan bening sedikit mengalir di bawah sana.

“Ooocchh..”, Tania mengerang semakin keras, ketika ia sendiri mulai memasukkan jemari tengahnya ke dalam liang basah itu.

Tania mengerang tanpa berusaha menahan suaranya. Ia sudah tak peduli lagi. Kedua pahanya terpentang lebar dan jari tengahnya melesak menerobos di antara lembah bibir-bibir kewanitaannya. Jari itu meluncur teratur.. turun sampai melesak sedikit memasuki liang surgawi yang berdenyut-denyut.. lalu naik menyusuri lembah licin yang hangat dan basah itu.. lalu terus naik ke atas lepitan kewanitaannya, tiba di tonjolan yang kini memerah itu.. berputar-putar di sana dua-tiga kali ..

“Aaacchh..,” erangan Tania semakin jelas. Kalau saja ada orang berdiri di balik pintu dan menempelkan kupingnya, niscaya ia akan mendengar erangan itu.

Tangan Tania bergerak semakin cepat, sementara tangan yang satunya juga terus meremas-remas payudaranya dengan gemas. Tubuh Tania berguncang-guncang oleh gerakannya sendiri. Ia menggumamkan namaku itu dengan sedikit keras, lalu menggulingkan tubuhnya menjauh dari sisi tempat tidur. Tania sudah tak lagi mempedulikan keras erangan suaranya. Ia sedang dalam perjalanan yang tak mungkin dihentikannya lagi. Ia harus sampai ke tujuan!

Aku pun merasakan tujuan asmara telah tampak di pelupuk mataku. Tanganku kini mencekal-meremas langsung kejantananku. Ada sedikit cairan licin membasahi bagian ujung kejantananku. Akibat gerakan turun naik, cairan itu terbawa oleh telapak tanganku membasahi batang kenyal-keras yang panas membara..

“Mas menggenjotmu dengan pelan, menerjangmu dengan lembut, semakin lama semakin keras.. semakin kuat Mas memompamu. Kamu meronta.. kamu meremasi rambut kepala Mas. Kamu mencakar dan menekan kulit punggung Mas. Mas menghentak.. menghentak.. semakin kuat. Dan..”, aku sengaja menghentikan fantasiku, karena ingin mendengar reaksi Tania.

Namun aku tidak memperlambat aktifitas tanganku di bawah sana. Gerakan tanganku semakin cepat dan teratur. Naik turun, naik turun, naik turun.. Terkadang agak lama di bagian ujung, meremas-remas dan mengepal. Menimbulkan rasa geli yang berkepanjangan, menyebar ke seluruh tubuh, menggetarkan semua otot, bahkan sampai menyebabkan ranjangku berderik-derik pelan.

“Ooochh.. Aacchh..”, Tania merintih-rintih keras dalam kenikmatan sensasi fantasinya.

Hanya suara rintihan itu yang bisa aku dengar dari ujung telephone selama beberapa saat. Aku terdiam menikmati suara rintihannya. Jemari tengah Tania telah lancar ke luar masuk, sambil sesekali ujung jempolnya menekan-berputar di klitorisnya yang tegang memerah.

Ranjang Tania bergoyang keras ketika ia mulai merasakan dirinya mendaki puncak asmara. Kini dua jari yang melesak, mengurut, menelusur lembah sempit di bawah sana. Kini kedua pahanya terentang maksimum, membuat kewanitaanya terbuka lebar, memberikan keleluasaan gerak kepada tangannya.

Tangan yang satu lagi kini beralih ke bawah, namun gagang telephone masih dijepit diantara kepala dan pundaknya. Tania memerlukan kedua tangannya untuk mendaki puncak gemilang birahinya. Satu tangan untuk melesakkan kedua jarinya cukup dalam ke liang surgawi yang menimbulkan rasa nikmat itu, sementara tangan yang lain mengusap-menekan-memilin tonjolan merah yang kini berdenyut-denyut itu.

Tania bahkan sampai merasa perlu mengangkat pinggulnya, memberikan tekanan ekstra ke seluruh daerah kewanitaannya, menggosok-gosok keras dengan kedua tangannya..

Aku menggosok-gosok dengan cepat. Mengurut dengan keras. Naik turun tanganku semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat. Nafasku terengah-engah. Kakiku terasa bagai melayang, padahal keduanya menjejak kasur dengan keras. Gagang telephone aku jepit di antara pundak dan kepalaku. 

Satu tanganku yang bebas kini mencengkram seprai, seakan mencegah tubuhku melambung ke langit-langit. Aku tak tahan lagi, aku menggerendeng merasakan tubuhku seperti hendak meledak.. Lalu aku benar-benar meledak. Menumpahkan cairan-cairan hangat di telapak tanganku.

Tania merasakan tubuhnya mengejang, ia mencoba terus menggosok-menggesek, tetapi rasa geli-gatal begitu intens memenuhi tubuhnya. Ia tak tahan lagi. Ia mengerang parau ketika sebuah ledakan besar memenuhi dirinya. Kedua kakinya terentang kejang. Kedua tangannya meninggalkan daerah kewanitaannya, mencengkram seprai di kedua sisi tubuhnya. Klimaksnya datang bagai guntur bergulung-gulung..

Ketika nafas kami mulai mereda, suasana hening di dalam telephone itu. Sesekali aku hanya bisa 
mendengar hembusan nafas beratnya, demikian pula Taniapun hanya bisa mendengar dengusanku.

“Nia, kamu masih di sana?”, aku mengawali percakapan kembali.

“Iyaa.. Mas, Mas udah lega belum?”, ia menjawab pelan pertanyaanku.

“Mas, lega.., dan capek.., terima kasih yaa.. Nia. Nia enak nggak?”, aku berkata lagi.

“Ehh..mm”, Tania tidak menjawab, hanya tersenyum di seberang sana.

Namun aku tahu pasti bahwa ia pun telah sangat menikmati ke-‘lega’-an bersamaku beberapa menit yang lalu.

“Nia, kita udahan dulu yaa.. Mas mau bersih-bersih dulu nih terima kasih yaa..”, aku berkata terus terang. Aku memang harus membersihkan cairan cintaku yang tumpah ruah di atas perut dan sprei ranjangku.

“Iya Mas, Nia juga mau mandi lagi nih.. Gerah sekali rasanya”, ia berujar.

Naah.. ketahuan deh.. Nia memang harus mandi, tetapi alasan gerah tidaklah masuk akal, karena malam itu suhu udara dingin sekali. Namun aku tidak berusaha meledeknya untuk kealpaannya ini. 

Aku paling tahu, Nia sangat sensitif pada perasaannya yang satu ini.

“Sampai besok yaa.. IOU”, aku mengakhiri percakapan.

“IOU Mas.., mimpiin Nia yaa.., bye”, lalu Nia menutup telephonenya.

Malam bagai tak peduli. Tetap dengan kelam dan dingin dan desir angin bersiut. Langit sesekali berkerejap oleh kilat di kejauhan. Awan hitam berarak menutupi cahaya bulan, mencegah Raja Malam itu menerangi muka bumi. Pohon-pohon bagai tidur sambil berdiri, terayun-ayun oleh angin yang meraja lela.

Sebentar kemudian hujan mulai turun. Mula-mula hanya berupa rintik kecil. Tetapi lalu dengan cepat semakin lebat. Bahkan kemudian sangat lebat seperti dicurahkan dari langit. Aku masih tergeletak lunglai. Tania pun tidak segera mandi, ia terkulai lemas. Kami berdua terpisah oleh tembok, halaman, batu, sungai kecil, pohon, jalan raya, dan sebagainya.. Tetapi kami berdua bersatu dalam fantasi erotik, kami bertemu dalam imajinasi asmara yang menggelegak membara. Siapa bilang tidak ada kekuatan telepati di dunia ini?

Kemudian aku beringsut menuju kamar mandi. Ketika aku masuk ke dalamnya, Tania terkejut sejenak sambil tersenyum melihat kejantananku yang sedari tadi sudah mulai mengeras lagi. Aku menggosok gigi, sementara Tania mulai merendamkan tubuhnya di dalam bathtub. Nyaman sekali rasanya berendam di air hangat. Tania mengusapkan busa wangi ke seluruh tubuhnya. Ke dadanya yang terbuai-buai di dalam air. Ke ketiaknya yang mulus tak berambut. Ke sela-sela pahanya yang tampak samar-samar di bawah permukaan air. Ke bagian-bagian yang tersembunyi, yang terjepit, yang berlekuk-berliku. Hmm. Biar semuanya harum.

Sejenak aku melirik ke kaca, dan darahkupun berdesir lagi ketika aku melihat Tania sedang membasuh payudaranya dengan air sabun. Putingnya yang merah kecoklatan terlihat mencuat keatas, sangat kontras dengan warna putih buih-buih sabun yang menempel di sekelilingnya. Tangannya membasuh dada dengan air sabun itu dan sesekali memilin-milin putingnya dengan lembut. Aku semakin tidak tahan menyaksikan pemandangan yang sangat sensual itu. Segera aku berbalik badan untuk memandangnya lebih jelas lagi adegan itu.

Tania berkata manja,

“Ayo Mas.., tolong gosokin punggung Nia dong..”. Tanpa berpikir panjang aku segera menghampirinya dan aku masuk ke dalam bathtub.

Sementara Tania mengangkat punggungnya sejenak dan mengatur posisi duduknya di dalam bathtub untuk memberikan tempat duduk kepadaku di belakang punggungnya. Kini aku telah duduk tepat di belakangnya, dan dengan jelas aku bisa menyaksikan kulitnya yang putih bersih dengan tonjolan ruas-ruas tulang belakang di bagian tengahnya. Air hangat terasa membasahi kaki dan pinggangku, lalu aku mulai menyiramkan air hangat itu di sekujur punggungnya. Karena sempitnya bathtub itu untuk tubuh kami berdua, maka kejantananku yang kian mengeras terasa menyentuh-nyentuh tulang belakang punggungnya. Tania kelihatan gemas sekali merasakannya.

Lalu tangannya beringsut kearah belakang pungungnya, mencoba meraup kejantananku itu.

“Hmm.. Nia gemes sama yang ini..”, begitu Tania berkata sambil meremasi kejantananku.

Tanganku yang tadi membasuhi punggungnya sekarang telah merangkul tubuhnya dari belakang, mecoba untuk membasuh dadanya. Sengaja aku mempermainkan puting dan payudaranya sehingga Tania menggeliat kegelian. Lalu Tania mendesah nikmat,

“Ahh.. “. Dan akupun secara refleks langsung melayangkan ciumanku ke arah rambut lembut di sekitar leher belakangnya.

Aku mencium dan menggigit lehernya dengan lembut dan Tania makin mengelinjang-gelinjang.. geli dan nikmat sekali rasanya.

Aku tidak sabar lagi, lau aku memintanya untuk berbalik badan. Kini kami duduk berhadapan dengan kaki saling menyilang. Kejantananku berada tepat di depan lubang kewanitaannya, siap untuk menusuknya dengan nikmat. Sekali lagi aku membasuh dadanya, aku meremas-remas payudaranya yang lembut dengan puting yang telah mengeras itu. Tania memejamkan mata menikmatinya.
Sebenarnya Tania sudah tidak tahan lagi, tetapi aku masih mau bermain-main dengan dua bukit indah di dadanya. 

Maka Tania menyerah, membiarkan diriku menjilat, menghisap, dan menggigit mesra puting-puting susunya. Tania hanya bisa mengerang, mendesis, dan berdecap setiap kali sensasi-sensasi nikmat datang dari kehangatan mulutku. Puncak-puncak payudaranya, bagian tengahnya, pangkalnya –seluruh payudaranya– terasa geli bercampur gatal bercampur hangat bercampur nikmat. Teruskan, teruskan, teruskan.. jeritnya dalam hati. Tapi itu tak perlu, karena aku tak akan segera berhenti.

Air bak mandi bergejolak hebat, sebagian tumpah ke lantai, menimbulkan suara kecipak yang ramai. Tapi kita tak memperdulikannya. Sambil terus mengulum putingnya, tanganku menjelajahi bibir halus di bawah sana. Mengelus lepitannya, menekan-nekan bagian atasnya yang sensitif, menelesuri celah-celahnya yang licin, berputar-putar di liang hangat yang pastilah telah berubah warna menjadi merah muda. Tania semakin banyak bergerak, menggeletar, menambah besar gelombang air di bak mandi.

Lalu aku mulai mencium bibir lembutnya, aku beringsut ke depan dan kejantananku perlahan-lahan menembus lubang surgawi kewanitaannya. Tania sigap mengambil inisiatif, sedikit mengangkat tubuhnya dengan posisi yang tepat, mengarahkan pusat kenikmatan kewanitaannya pada kejantananku. Lalu, perlahan-lahan Tania duduk kembali, dan dengan nikmatnya merasakan senti-demi-senti penyatuan cinta birahi dirinya dan diriku. Nikmat sekali rasanya. Perlahan sekali rasanya. Penuh sekali rasanya.

“Ah..,” cuma itu yang bisa Tania desahkan ketika akhirnya Tania terduduk total dipangkuan kedua pahaku, pada posisi yang masih saling berhadapan.

“Oucchh.. Mas”, Tania mengerang penuh nikmat ketika aku membenamkan seluruh kejantananku lembut sekali.

Sambil memegang wajahku dengan kedua tangan, dan sambil meneruskan ciuman kami yang menggelora, Tania memulai pendakiannya ke puncak kenikmatan. Tubuhmu bergerak naik-turun. 

Mula-mula perlahan dan beraturan. Tetapi tidak lama kemudian berubah liar, diselingi teriakan-teriakan tertahan, dan suara-suara basah yang berdecap-decup dari bawah sana.

Tangan Tania dialihkan dengan memeluk erat punggungku, seolah Tania menginginkan tusukanku lebih dalam lagi. Tania menggelinjang-gelinjang dengan nikmat, sehingga air dalam bathtub kami bergolak-golak seirama dengan gejolak nafsu kami di pagi buta itu. Dengan kasar Tania meremas-remas rambut kepalaku, Tania mencakari punggungku sambil menaik-turunkan tubuhnya. Terasa dinding kewanitaannya memijat-mijat kejantananku dengan lembut.

Kedua tanganku yang kokoh ikut membantu. Aku mencekal pinggangnya dengan sigap, membantunya bergerak naik-turun, karena tampaknya Tania telah kehilangan kendali. Ciuman kami terputus, karena Tania meregang dengan kepala terdongak ke belakang. Dadanya membusung, payudaranya berayun keras, memberikan pemandangan indah kepadaku. Segera aku meraih salah satu bukit sintal itu dengan mulutku, menyedot puting susunya, dan membuatnya menjerit nikmat, dan mengirim sinyal terakhir yang memicu orgasme pertama di pagi buta itu.., orgasme ke limanya bersamaku.

Tania meregang dan mengejang. Gerakannya terhenti di tengah-tengah, lalu Tania terhenyak terduduk, dan menggelinjang bergeletar. Aku merasakan denyutan-denyutan kuat di bawah sana. Aku meneruskan hisapan mulutku, meningkahinya dengan gigitan-gigitan lembut.
Tania pun mengerang,

“..Aaah..”, Tania pun mendesis,

“..Sssh..”, Tania pun akhirnya berteriak panjang,

“..Oooh.. mass enakk..”, sebelum akhirnya terkulai dan memeluk erat diriku.

Kami berciuman kembali, kali ini dengan penuh kelembutan. Tania bergumam,

“Mmm.. enak sekali, Mas luar biasaa.. enak sekali..”. Tiga menit berselang, lalu ritual itu pun berlanjut, kali ini dengan aku sebagai pelaksana utamanya.

Tubuhku yang kokoh bergerak maju-mundur sebatas pinggang, menciptakan tikaman-tikaman nikmat. Setiap hujaman mengirimkan sejuta getar ke seluruh penjuru tubuhnya.

Tania mengerang lagi, mendesis lagi. Aku semakin cepat bergerak, dengan nafas yang tak kalah menggebunya. Keringat dan air bercampur di tubuh kami berdua, sementara di bagian bawah, tempat penyatuan wanita-pria itu, kebasahan telah mengental, menimbulkan suara berdecap berkecipak setiap kali aku menghujam dan menghela. Suara-suara gairah memenuhi kamar mandi. Tania sangat bergairah. Aku sangat bergelora. Kami berdua, bersama-sama, berkejaran menuju puncak kenikmatan.

“Mmm.. Nia.. ngga tahan, Mas.. ngga tahan.. ,” Tania mengerang, aku hanya bisa menggeram.

“Ogghh.. Mas, Nia nikmatt.. sekalii..”, Tania mengerang-ngerang nikmat bercampur bunyi dengan kecipak air di dalam bathtub.

“Ogghh.., Nia,.. Mas juga enakk..”, aku membalas rintihannya dengan menggigit mesra leher jenjangnya itu hingga memerah.

Tanganku tetap memilin-milin puting kecoklatannya, sambil sesekali aku basahkan air sabun ke atasnya.

Tania makin mengelinjang-gelinjang sambil terus mendesah-desah nikmat,

“Terus Mas, terus Mas..”.

“Aaah..,” Tania menjerit tertahan ketika orgasme kedua (ke enam bersamaku) tiba-tiba datang menyerbu.

Tania menggelinjang hebat, tetapi kedua tanganku erat memeluk, sehingga Tania tidak bisa melepaskan diri. Aku masih terus menghujamkan sejuta kenikmatan. Tania menggeletar hebat. Tania ingin diriku berhenti dulu. Tapi tidak, tidak. Tania ingin diriku terus bergerak. Berhenti dulu. Bergerak. Berhenti dulu. Bergerak. Tania tidak tahu harus bagaimana, kenikmatan sudah memenuhi seluruh tubuhmu. Berdenyut, berdetak, bergelora, meletup-letup. Tania menyerah. Tania menjerit lebih keras.

Dan Aku merasakan jepitan menguat di bawah sana, seakan mereMas, dicampur denyut-denyut keras. Aku pun tak tahan lagi. Seakan ada air bah bergemuruh di dalam diriku, membawa jutaan partikel-partikel nikmat yang membuat mataku terpejam. Tak lama kemudian ototku terasa menegang, setengah berteriak aku berkata, “Ayo Nia.., Mas mau keluar, Mas nggak kuatt.. ayo kita bersama-sama mencapai nikmatt.. Nia..”.

“Ayo Mas.. terus Mas..”, Tania pun mendesah-desah sambil dengan semakin cepat ia menggoyang-goyangkan pinggul dan badannya.

Dengan sekuat tenaga aku menghujam. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Akhirnya aku menggeram, menggerendeng bagai banteng menahan amarah, “Niaaa.., auucchh.. Mas keluarr.. sayangg..”, dan sedetik kemudian “Mas, Nia juga enakk..”. Lava panasku meledak-ledak di dalam lubang kewanitaannya, sementara Tania tetap menggoyang-ngoyangkan pinggulnya. Cairan hangat menyerbu keluar dari tubuhku, menyemprot kuat ke dalam tubuh Tania yang telah terbuka menerima, memfinalkan kenikmatan yang terasa sampai keujung jempol kakinya.

“Auucchh.. geli sekalii.. tapi enakk..” aku menggigit bibirku menahan rasa nikmat itu.

Lava panas itu menghangati dinding kewanitaannya dan Taniapun terlihat menikmati saat-saat orgasmenya yang kesekian kali bersamaku..

Kami berdua terkulai dengan nafas memburu. Ia bahkan masih terus mengerang dengan suara pelan. Setengah menit kemudian kami masih terkulai berpelukan dalam bathtub. Air hangat masih mengalir ke dalam bathtub, yang segera aku matikan. Suara air tak ada lagi. Kamar mandi kembali sepi, setelah saat-saat indah itu. Lalu aku berucap pelan,

“Kita harus segera mandi lagi, nih, ‘yang.. ”

Tania tersenyum,

“Nia yang memandikan, yaa.. Mas. Ini tanggung jawab Nia, lho!”. Akupun tertawa sambil berujar,

“Kalau kamu yang memandikan aku, kita akan terlambat ke airport. Sekarang sudah pukul 6 pagi”.

“Kan cuma mandi?” ia menggodaku lagi.

“Cuma mandi. Titik. Dan mandinya juga pakai shower saja.. ” sahutku.

Iapun menggangguk setuju.

Kemudian kami bergegas untuk membasuh diri kami masing-masing dan Tania menyabuni seluruh tubuhku. Tangannya dengan lembut menyabuni kejantananku yang telah terkulai, dan sesaat Taniapun masih sempat untuk menguluminya.

“Occhh.. Nia, kamu juga hebat sekali.., belum pernah aku merasakan yang seperti ini dengan orang lain..”, begitu bisikku jujur sambil menyabuni tubuhnya.

Tania tersenyum manja mendengar bisikan itu, sambil menjawab,

“Ntar deh di Jakarta.., Nia kasih yang lebih hebat lagi yaa..”. Aku tertawa keras, mencubit pipinya dengan gemas.

Sungguh sebuah pagi yang indah sekali!!

Setelah kami selesai mandi lalu kami bersiap untuk check out dan berangkat menuju ke airport. Pukul 8.00 pagi, aku dan Tania sudah berada di pesawat Garuda duduk bersebelahan. Tangannya menggenggam erat tanganku seolah Tania tidak ingin melepaskanku. Ketika pesawat dengan lancar melakukan take-off, sejenak kemudian ia merebahkan kepalanya di dadaku.

“Nia tidur yaa.. Mas, ngantuk dan capek nih”, begitu katanya.

“Hmm.., saya juga mau bobok, sayangg..”, aku menjawab seiring dengan datangnya rasa kantukku.

Sambil tersenyum aku berkata dalam hati,

“Pantas saja kamu kecapekan, habis lebih dari 6 kali sih..”.

Kami sejenak terdiam ketika si manajer itu mengakhiri ceritanya. Ia sungguh nampak jujur di mataku, tanpa sedikitpun usaha untuk melebih-lebihkan ceritanya. So, apakah aku harus tidak percaya..?

“Sejak saat itulah aku jadi sering malakukan ‘affair’ dengan dia. Kalau hal itu elu sebut ‘affair’, tapi elu janji yaa.. jangan tanya-tanya lagi mengenai hal ini”, si manajer itu mengakhiri ceritanya kepadaku.

“Oke.. man has to know his limit..”, jawabku meyakinkannya.

Tiba-tiba HP si manajer itu berdering, dan ia menjawabnya dengan nada bicara yang pendek-pendek tanpa semangat. Aku tahu, pasti itu adalah telephone dari rumahnya. Semua orang di kantor ini bisa membedakan bagaimana gayanya kalau menerima telephone dari rumahnya.

“Gua, cabut dulu yaa..”, katanya lagi ketika ia selesai bicara di HP-nya.

“OK, see you next morning, take care..”, jawabku singkat.

Ketika si manajer itu keluar dan menutup pintu kamar kerjaku, aku kembali tercenung mengingat semua ceritanya. Perasaanku bercampur aduk antara cemburu, sebel, ingin marah, tetapi aku tidak tahu harus aku tujukan kepada siapa. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.. Sejenak aku ingin menghubungi Tania melalui paging telephone, siapa tahu ia belum pulang saat ini, tetapi niatku itu aku urungkan. Aku masih belum bisa menata kembali perasaanku.

Aku segera mematikan layar komputer, arlojiku telah menunjukkan pukul 19.30 malam. Lorong kantorku telah sepi senyap saat aku keluar dari pintu kamar kerjaku. Kursi Tania juga sudah lama kosong. Rupanya ia bergegas pulang sore ini karena ada janji dengan seseorang, begitu kata office boy yang dengan setia masih menungguku.

“Acchh.., Tania, dengan siapa lagi kamu malam ini..?”, aku bertanya dalam hati sambil bergegas meninggalkan pintu ruang kantorku.

Bagaiman Dengan Cerita Dewasa Phone Sex Dengan Orang Yang Kurindukan ? Seru bukan ? Dan jangan lupa untuk di simak Cerita Dewasa lainnya Seperti di bawah ini :

Cerita Dewasa Desahan Liar Mantanku

Cerita Dewasa Desahan Liar Mantanku

Cerita Dewasa Desahan Liar Mantanku

Cerita Dewasa kali ini menceritakan tentang kisah Cerita Dewasa Desahan Liar Mantanku , cerita ini merupakan kisah nyata yang di alamin oleh salah satu penulis cerita yang di tuangkan menjadi sebuah cerita sex yang membuat nafsu gitu mengebu ngebu. Silahkan di simak langsung Cerita 17+ kali ini :

Cerita Dewasa Desahan Liar Mantanku - Kali ini aku menjalin hubungan dengan Naya gadis cantik dari kota yang sama denganku. Sedangkan Sofi, pacarku sebelum Naya masih saja sering menghubungi aku, walau sering juga aku tidak mengangkatnya. 

Karena aku benar-benar kecewa dengan sikapnya padaku, hampir satu tahun aku menjalin hubungan dengannya dan akupun sudah serius dengan hubungan ini, tapi dengan mudahnya Sofi memutuskan aku.Awalnya aku tidak mengetahui alasannya. 

Namaku Deni usiaku 27 tahun dan sudah bekerja di perusahaan swasta, selama satu tahun aku menjalin hubungan dengan Sofi gadis yang beda kota denganku, meskipun begitu aku sering menemuinya jika ada waktu. Bahkan terkadang setiap weekend aku pergi ke rumahnya, dan bukan hanya itu saja sudah banyak waktu yang aku korbankan untuknya.

Begitupun hal seperti cerita dewasa yang sudah sering kami lakukan. Tapi karena Sofi yang berubah sikapnya bahkan dia rela memutuskan aku karena dia memutuskan akan menikah. Dengan orang yang telah di pilih orang tuanya. Tapi belum juga terjadi pernikahan , rencana itu gagal karena ternyata calon suami Sofi bukan seorang pengusaha sukses tapi seorang penipu.

Hari ini aku menunggu Naya di depan kantornya, karena dia bekerja di perusahaan yang berbeda denganku. Di cafe itu aku dapat melihat kalau Naya keluar dari kantornya. 

Dari balik kaca aku melihantnya setelah setengah jam aku menunggu, kulihat Naya bergegas masuk kedalam cafe tersebut. Dia tersenyum padaku dan berkata

” Lama nunggunya …maaf ya…” Kata Naya padaku.

Akupun menjawab ” Kok telat katanya pulang agak siangan ..” Dia memegang taganku dan berkata

” Tadi ada rapat kilat sayang…” Kamipun langsung menyantap makanan yang kami pesan, begitu manis dan baik Naya ini.

Walau belum genap 2 bulan hubunganku, tapi aku tahu kalau dia gadis baik-baik. Karena selama berhubungan denganku saja dia tidak pernah mau di ajak melakukan.

Paling kami hanya berciuman mesra. Walaupun seorang laki-laki yang pernah melakukan hal itu tapi aku dapat menahannya selama ini, mungkin karena aku tidak lagi mengukur hubungan serius dari cara seseorang pernah melakukan cerita dewasa. situs judi online

Tapi belum lagi menginjak 3 bulan hubunganku, akhirnya ada sesuatu yang tidak aku duga sebelumnya.

Aku menyelingkuhi Naya, gadis cantik yang selama ini setia dan begitu perhatiannya padaku. Apa mungkin karena dengannya aku tidak pernah melakukan cerita dewasa, hingga aku dengan gampangnya melakukan perselingkuhan itu. Cerita itu bermula ketika minggu lalu, aku mendapat telpon dari Sofi, sebenarnya aku sudah tidak pernah mengangkatnya tapi hari itu.

Aku mengangkat telpon dari Sofi, dan dia ingin bertemu denganku karena dia ada di kota ini. Dengan mengendarai mobilku, sepulang dari rumah Naya aku bilang kalau aku ada keperluan, dan tidak lama di rumahnya. Dengan senyum yang biasa menghiasi wajahnya Naya mengantarku sampai di depan rumahnya. Padahal waktu itu aku terus ke tempat janjian dengan Sofi, mantanku.

Seperti yang sudah di tentukan kami bertemu di sebuah cafe, ketika aku sampai aku sudah dapat melihat Sofi duduk sendirian di cafe itu. Langsung saja aku mengahmpiri dan berkata

” Sudah lama nunggunya… ” Diapun menjawab singkat

” Baru saja… ” Katanya sambil menunduk, mungkin dia tidak berani memandang wajahku.

Di sana aku melihat wajah Sofi yang semakin kurus saja.

Mungkin karena rasa simpatiku itu, aku menurut saja ketika dia bilang dia mau ke rumahku. 

Sebenarnya aku sudah mempunyai sebuah rumah minimalis yang aku hasilkan sendiri dari hasil pekerjaanku. Dan Sofi memang sudah mengetahui hal itu, kamipun sampai di rumahku. Di sana aku langsung masuk dalam kamar untuk berganti baju, sedangkan Sofi masih berada di ruang tamu.

Di saat aku keluar terlihat Sofi melihat ke arahku.

” Maaf..Deni..aku telah membuatmu kecewa..” Katanya dengan muka sedihnya

” Sudahlah Sof..aku benar-benar melupakan hal itu kok…” Tapi dengan tiba-tiba Sofi memeluk tubuhku, dengan eratnya dia dekap tubuhku.

Saat itu juga aku membalas pelukannya dan tangankupun membelai rambutnya seperti kami masih pacaran dulu.

Dengan muka sedihnya Sofi menengadah dan menatapku deangan tatapan yang sulit aku gambarkan. Namun yang pasti saat itu kami langsung berciuman, kami saling melumat bibir kami masing-masing. Malah lidah Sofi menjulur bermain di dalam mulutku. Dengan begitu lihainya karena sudah biasa aku dengannya melakukan hal ini, Sofi membuka bajuku tapi masih dengan bibir di kulum.

Saat itulah aku sudah tidak lagi memakai baju. Dengan pelan tapi pasti Sofi merosot di depanku, hingga dia berada pas di depan penisku yang masih lemas. Dan dengan lahapnya dia masukkan penisku kedalam mulutnya, dia kulum dan di lumatnya penisku. Bahkan ketika penis itu sudah menggeliat membesar dan semakin tegang, Sofi langsung bermain dengan tangannya.

Dengan lembut dia kocok penisku dengan menggunakan tangannya, sesekali dia kulum lagi dan dia hisap sampai mulutnya menyedot keras penis itu hingga aku mendesah panjang

” Oouuggghhhh…ooouugghh…ooouugghhh…aaaagghh…aaagghh…E..nak…Sof..terus…Sof….ooouuuggghh… ” Mataku sudah terpejam menikmati permainan mulut Sofi, bahkan aku tidak dapat menahan keseimbangan kakiku.

Di saat itulah aku terjatuh dan duduk di kursi panjang ruang tamu itu. Sofi membuka bajunya sambil terus menatapku dengan penuh nafsu. Ketika bajunya sudah terbuka kembali dia melumat penisku dalam mulutnya

” Su..dah …Sof…aku sudah..tidak..ta..han..lagi..ooouugghh…aaagghhh….aaagghh…. ” Aku tarik tubuh bugil Sofi hingga dia menindihku.

Karena sudah biasa kami melakukan cerita dewasa selama ini, diapun dengan lihainya menggoyang tubuhku dari atas . Bagai penunggang kuda Sofi menghentak-hentakan penisnya padaku.

” Oouugghh…aaggh..aaghhh…aaaggghhh…aaagghh…aaagghh..ya..ya..ya…” Begitu terus Sofi mendesah, bahkan sesekali dia memutar pantatnya di atas penisku.

Di saat seperti itu aku sudah tidak dapat menahannya.

” Aaaauuugghhh…..oouugghh…aaagghh…aku..nggak..ku..at..Sof…oouugghh… ” Kemudian aku balik tubuh Sofi yang berada di atasku.

Dengan sekuat tenaga aku tancapkan penisku dan menggoyangnya dengan penuh semangat

” Aaaauuuwww…Mas…Sof…am..su..dah…aaaagghhh… ” 

Dia merengkuh tubuhku dengan eratnya.

Akupun mencapai klimaks seperti yang baru saja Sofi alami, dengan menekan penisku lebih dalam dan Aaaaagghhhh semua tumpah dalam vagina Sofi. Diapun memejamkan mata sambil terus mendekap tubuhku. Kemudian aku terkulai dan lunglai di sampingnya. 

Dengan penuh mesra Sofi memeluk tubuhku, malam itu dia menginap di rumahku, bahkan kami sering melakukannya.

Walau hal itu tak bisa aku hindari, tapi sungguh aku takut kalau sampai Naya mengetahui perbuatanku. Dan hingga saat ini dia belum mengetahuinya, karena aku simpan rapat tentang hal ini. 

Tapi aku tahu kalau Sofi mengetahui hiubunganku dengan Naya, karena itu selama ini dia tidak pernah menuntut apapun dariku. Walau sekarang dia yang lebih sering ke sini untuk menemuiku.

Bagaiman Dengan Cerita Dewasa Desahan Liar Mantanku ? Seru bukan ? Dan jangan lupa untuk di simak Cerita Dewasa lainnya Seperti di bawah ini :